Revolusi Rusia merupakan peristiwa penting dalam sejarah dunia yang membawa perubahan besar terhadap sistem pemerintahan Rusia. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Tsar Nicholas II yang dikenal otoriter. Kondisi kehidupan rakyat yang diliputi kemiskinan, kelaparan, serta kesenjangan sosial semakin memperkuat tuntutan perubahan.
Selain berdampak terhadap Rusia, keberhasilan revolusi ini juga mendorong penyebaran paham komunisme ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Lantas, apa saja latar belakang terjadinya Revolusi Rusia dan bagaimana dampaknya?
Latar Belakang Terjadinya Revolusi Rusia
Pada dasarnya, Revolusi Rusia terjadi akibat sikap otoriter Tsar Nicholas II. Sejak akhir abad ke-19, banyak masyarakat mulai merasa tidak puas terhadap kepemimpinannya. Ketidakpuasan tersebut muncul karena rakyat mengalami kelaparan, kemiskinan, serta ketertinggalan dalam bidang industri dan pertanian.
Kondisi tersebut kemudian mendorong terbentuknya persatuan di kalangan buruh, petani, dan tentara Rusia. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya Revolusi Rusia, di antaranya sebagai berikut.
1. Terbentuknya Kelompok Menshevik, Bolshevik, dan Kadet
Pada 1898, George Plekhanov, seorang aktivis politik yang mendalami Marxisme, mendirikan Partai Sosial Demokrat (PSD). Pendirian partai ini turut memengaruhi jalannya revolusi di Rusia.
Namun, pada 1903, PSD terpecah menjadi dua aliran, yaitu Menshevik dan Bolshevik. Menshevik merupakan kelompok sosial demokrat atau sosialis yang dipimpin oleh George Plekhanov dan Alexander Kerensky. Sementara itu, Bolshevik merupakan kelompok radikal revolusioner atau komunis yang dipimpin oleh Vladimir Ilyich Ulyanov (Lenin), Leon Trotsky, dan Joseph Vissarionovich (Stalin).
Kedua kelompok tersebut dikenal sebagai penentang Tsar Nicholas II karena menghendaki pemerintahan Rusia yang lebih modern.
Selain itu, terdapat kelompok Kadet atau Konstitusional Demokrat yang beraliran liberal. Kelompok ini menghendaki Rusia menjadi kerajaan yang memiliki undang-undang dasar.
Kelompok Menshevik, Bolshevik, dan Kadet dikenal sebagai kaum intelektual yang menuntut perubahan dalam pemerintahan Rusia.
2. Peristiwa Bloody Sunday atau Minggu Berdarah
Faktor berikutnya adalah peristiwa Bloody Sunday atau Minggu Berdarah yang terjadi pada 22 Januari 1905. Saat itu, masyarakat mengadakan aksi protes di St. Petersburg untuk meminta keadilan kepada Tsar Nicholas II.
Namun, aksi tersebut justru disambut dengan penembakan oleh aparat keamanan. Peristiwa ini mengakibatkan sekitar 1.000 demonstran tewas dan kemudian dikenal sebagai Bloody Sunday 1905.
Setelah kejadian tersebut, semakin banyak rakyat yang kehilangan simpati terhadap kepemimpinan Tsar Nicholas II. Ketidakpuasan masyarakat pun semakin kuat.
3. Keikutsertaan Rusia dalam Perang Dunia I
Pada 1914, Perang Dunia I meletus dan Rusia menjadi salah satu negara yang terlibat di dalamnya. Namun, keikutsertaan Rusia dalam perang justru dinilai semakin memperburuk kondisi kehidupan rakyat.
Rusia mengalami kelangkaan bahan makanan sehingga masyarakat dilanda kelaparan hebat. Kondisi tersebut membuat rakyat semakin meragukan kemampuan Tsar Nicholas II dalam memimpin negara.
4. Terjadinya Kesenjangan Sosial
Kesenjangan sosial antara kaum bangsawan dan rakyat juga menjadi salah satu faktor yang memicu Revolusi Rusia.
Kaum bangsawan menjalani kehidupan mewah, sedangkan sebagian besar rakyat hidup dalam kondisi serba kekurangan. Perbedaan kondisi kehidupan yang mencolok tersebut semakin memperbesar ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan Tsar Nicholas II.
Dampak Revolusi Rusia bagi Dunia dan Indonesia
Revolusi Rusia memberikan pengaruh terhadap perkembangan politik di berbagai negara. Salah satu dampaknya adalah meluasnya paham komunisme ke sejumlah negara, termasuk Cina dan Indonesia.
Keberhasilan Lenin bersama golongan Bolshevik dalam mendirikan negara komunis juga mendorong munculnya gerakan revolusi di negara-negara lain pada masa itu.
1. Penyebaran Paham Komunisme di Dunia
Keberhasilan kelompok Bolshevik mendirikan negara komunis menjadi salah satu dampak penting Revolusi Rusia. Peristiwa tersebut turut mencetuskan gerakan revolusi di berbagai negara dan mendorong penyebaran paham komunisme ke sejumlah wilayah, termasuk Cina.
2. Masuknya Paham Komunisme ke Indonesia
Di Indonesia, masuknya paham komunisme dipengaruhi oleh Henk Sneevliet, seorang tokoh asal Belanda yang pernah menetap di Rusia. Ia merupakan pendiri Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV), organisasi yang kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Hindia.
Pengaruh ISDV juga meluas ke sejumlah tokoh Sarekat Islam (SI), seperti Darsono, Semaun, dan Alimin. Pengaruh tersebut menyebabkan Sarekat Islam terbagi menjadi dua golongan, yaitu SI Putih dan SI Merah.
Seiring meluasnya pengaruh Revolusi Rusia, Partai Komunis Hindia kemudian mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Salah satu kelompok yang menjadi penganutnya adalah SI Merah.
Kesimpulan
Revolusi Rusia dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Tsar Nicholas II yang otoriter, kemiskinan, kelaparan, kesenjangan sosial, serta berbagai peristiwa politik dan peperangan. Terbentuknya kelompok penentang Tsar, peristiwa Bloody Sunday, dan keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia I semakin memperkuat tuntutan perubahan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di Rusia, tetapi juga meluas ke berbagai negara melalui penyebaran paham komunisme. Di Indonesia, pengaruh tersebut berkaitan dengan perkembangan ISDV, perubahan nama menjadi Partai Komunis Hindia, serta munculnya perpecahan dalam Sarekat Islam.


