{"id":26140,"date":"2024-10-04T09:23:43","date_gmt":"2024-10-04T02:23:43","guid":{"rendered":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/?p=26140"},"modified":"2025-06-29T02:11:36","modified_gmt":"2025-06-28T19:11:36","slug":"apa-itu-psikotropika-dalam-dunia-medis-dan-apa-perbedaannya-dengan-narkotika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/apa-itu-psikotropika-dalam-dunia-medis-dan-apa-perbedaannya-dengan-narkotika\/","title":{"rendered":"Apa Itu Psikotropika dalam Dunia Medis dan Apa Perbedaannya dengan Narkotika?"},"content":{"rendered":"<h1>Apa Itu Psikotropika dalam Dunia Medis dan Apa Perbedaannya dengan Narkotika?<\/h1>\n<p>Psikotropika merupakan jenis obat \u2013 obatan yang mempengaruhi sistem saraf pusat (otak) yang dapat mengubah kesadaran, perilaku seseorang, persepsi, dan pikiran. Namun, obat ini dapat menyeimbangkan kadar senyawa kimia di otak (neurotransmitter), seperti norepinefrin, dopamine, gamma aminobutyric acid (GABA) dan serotonin sehingga bisa meringankan gejala pada kesehatan mental.<\/p>\n<p>Penggunaan psikotropika pada dunia medis memiliki hukum dan ketentuan tertentu. Penggunaan psikotropika hanya dapat digunakan berdasarkan dosis yang sesuai dengan resep dan berada di bawah naungan dokter. Biasanya, penggunaan psikotropika digunakan oleh beberapa dokter untuk menangani pasien dengan kondisi medis tertentu, seperti; gangguan bipolar, sindrom kelelahan kronis, depresi, gangguan kecemasan, insomnia, skizofrenia, penyakit parkinson.<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-0032959964480376\" data-ad-slot=\"7381647052\" data-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins><\/p>\n<p>Beberapa orang menganggap psikotropika merupakan hal yang sama dengan narkotika. Padahal, psikotropika dan narkotika merupakan dua obat obatan yang hampir sama namun berbeda.<\/p>\n<h2>Perbedaan Psikotropika dan Narkotika<\/h2>\n<p>Psikotropika dan narkotika adalah dua jenis zat yang sering disalahgunakan, namun memiliki perbedaan mendasar. Narkotika adalah zat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman yang bisa menyebabkan penurunan kesadaran, hilangnya rasa, serta mengurangi atau menghilangkan rasa sakit, dan sering kali menimbulkan ketergantungan.<\/p>\n<p>Contohnya adalah heroin, morfin, dan kokain. Di sisi lain, psikotropika adalah zat atau obat yang memengaruhi sistem saraf pusat, terutama fungsi otak, sehingga bisa mengubah perilaku, suasana hati, atau pikiran, seperti ekstasi, LSD, dan amfetamin. Sementara narkotika lebih berfokus pada efek menghilangkan rasa sakit dan menurunkan kesadaran, psikotropika cenderung memengaruhi kondisi mental, emosi, serta kemampuan berpikir pengguna.<\/p>\n<p>Dari kedua jenis zat tersebut, dapat disimpulkan bahwa psikotropika merupakan golongan obat yang mempengaruhi perilaku dan sifat penggunanya, sedangkan narkotika adalah jenis obat untuk mengurangi rasa nyeri, namun dapat menimbulkan halusinasi.<\/p>\n<p>Dua jenis obat \u2013 obatan ini dapat memunculkan rasa kecanduan atau adiksi, sehingga sering disalahgunakan. Oleh Karena itu, pengguna obat \u2013 obatan ini harus diawasi oleh pihak tertentu, seperti dokter.<\/p>\n<h2>Jenis Golongan Psikotropika<\/h2>\n<p>Psikotropika dikelompokkan berdasarkan kekuatan dan potensi ketergantungannya. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing golongan:<\/p>\n<ol>\n<li>\n<h3>Psikotropika Golongan I<\/h3>\n<p>Psikotropika golongan ini sangat berbahaya dan memiliki potensi sangat tinggi untuk menyebabkan ketergantungan, namun tidak digunakan untuk terapi medis, hanya untuk penelitian ilmiah. Contoh:<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4>LSD (Lysergic Acid Diethylamide): Zat halusinogen yang menyebabkan perubahan persepsi, suasana hati, dan pikiran.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>DOM (2,5-Dimethoxy-4-methylamphetamine): Zat dengan efek halusinogen dan stimulan yang kuat.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>MDMA (Ekstasi): Zat dengan efek meningkatkan energi, euforia, dan empati, sering disalahgunakan dalam kegiatan rekreasi.<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>\n<h3>Psikotropika Golongan II<\/h3>\n<p>Golongan ini memiliki potensi tinggi untuk menyebabkan ketergantungan, tetapi masih digunakan dalam terapi medis dengan pengawasan ketat. Contoh:<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4>Deksamfetamin: Digunakan untuk mengobati gangguan seperti ADHD, tetapi bisa menyebabkan euforia dan ketergantungan.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Amfetamin: Digunakan untuk meningkatkan fokus dan perhatian, terutama pada penderita ADHD, tetapi juga memiliki potensi penyalahgunaan.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Metamfetamin: Digunakan untuk ADHD dan obesitas, namun sering disalahgunakan karena efek stimulan yang kuat.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Metilfenidat: Obat stimulan yang digunakan dalam pengobatan ADHD dan narkolepsi.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Ritalin: Merupakan nama merek untuk metilfenidat, sering digunakan untuk ADHD.<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>\n<h3>Psikotropika Golongan III<\/h3>\n<p>Psikotropika ini memiliki potensi ketergantungan lebih rendah dibandingkan golongan I dan II, tetapi tetap berisiko jika disalahgunakan. Contoh:<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4>Megadon: Obat yang digunakan untuk terapi substitusi pada ketergantungan opioid.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Buprenorfin: Digunakan untuk mengobati ketergantungan opioid, mengurangi gejala sakaw.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Kodein: Obat pereda batuk dan nyeri sedang yang juga memiliki potensi adiktif.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Pentobarbital: Obat penenang dan anti-kejang, tetapi bisa menyebabkan ketergantungan jika digunakan berlebihan.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Pentazosin: Obat penghilang rasa sakit yang digunakan dalam pengobatan nyeri sedang hingga berat.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Glutetimid: Digunakan sebagai sedatif atau hipnotik, tetapi penggunaannya telah dibatasi karena efek ketergantungannya.<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>\n<h3>Psikotropika Golongan IV<\/h3>\n<p>Golongan ini memiliki potensi ketergantungan paling rendah dan sering digunakan dalam pengobatan, terutama sebagai obat penenang atau antikejang. Contoh:<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4>Lexotan (Bromazepam): Obat penenang yang digunakan untuk mengurangi kecemasan dan gangguan tidur.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Diazepam: Obat untuk mengobati kecemasan, kejang, dan gejala penarikan alkohol.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Nitrazepam: Digunakan untuk mengobati insomnia dan gangguan kecemasan.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Estazolam: Obat tidur yang digunakan untuk mengatasi gangguan tidur sementara.<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Clobazam: Obat antikonvulsan yang digunakan untuk mengobati epilepsi.<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n<h2>Dampak Penyalahgunaan Psikotropika<\/h2>\n<p>Penyalahgunaan psikotropika yang tidak sesuai dengan anjuran dokter, maka dapat menimbulkan efek gangguan kesehatan pada seseorang, seperti berikut;<\/p>\n<ol>\n<li>\n<h4>Overdosis<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Rasa kantuk yang berat<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Gangguan fungsi otak dan jantung<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>HIV\/AIDS atau hepatitis akibat infeksi dari penggunaan jarum yang bersamaan<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Mual dan muntah<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Kerusakan liver dan ginjal<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Menurunkan kesadaran, bahkan koma.<\/h4>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa psikotropika dan narkotika adalah dua jenis zat yang sering disalahgunakan dengan efek berbeda pada tubuh dan pikiran. Narkotika, seperti heroin dan morfin, berfungsi terutama sebagai penghilang rasa sakit dan penurun kesadaran, serta memiliki potensi besar untuk menyebabkan ketergantungan fisik.<\/p>\n<p>Sebaliknya, psikotropika seperti ekstasi dan diazepam memengaruhi fungsi otak, mengubah suasana hati, perilaku, atau persepsi, dan digunakan dalam terapi medis untuk gangguan mental dengan pengawasan ketat. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada efeknya: narkotika lebih berfokus pada penenangan fisik, sementara psikotropika mempengaruhi aspek mental dan emosional.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa Itu Psikotropika dalam Dunia Medis dan Apa Perbedaannya dengan Narkotika? Psikotropika merupakan jenis obat \u2013 obatan yang mempengaruhi sistem saraf pusat (otak) yang dapat mengubah kesadaran, perilaku seseorang, persepsi, dan pikiran. Namun, obat ini dapat menyeimbangkan kadar senyawa kimia di otak (neurotransmitter), seperti norepinefrin, dopamine, gamma aminobutyric acid (GABA) dan serotonin sehingga bisa meringankan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":26141,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[16726,16734,16729,16728,16727,16736,16733,16732,16731,16730,16735],"class_list":["post-26140","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-apa-itu-psikotropika","tag-contoh-psikotropika","tag-dampak-penyalahgunaan-psikotropika","tag-jenis-golongan-psikotropika","tag-perbedaan-psikotropika-dan-narkotika","tag-psikotropika-adalah","tag-psikotropika-golongan-i","tag-psikotropika-golongan-ii","tag-psikotropika-golongan-iii","tag-psikotropika-golongan-iv","tag-psikotropika-merupakan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26140","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26140"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26140\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32507,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26140\/revisions\/32507"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26141"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26140"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26140"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26140"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}