{"id":36182,"date":"2025-09-09T13:18:10","date_gmt":"2025-09-09T06:18:10","guid":{"rendered":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/?p=36182"},"modified":"2025-09-09T13:18:10","modified_gmt":"2025-09-09T06:18:10","slug":"cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah-apa-bedanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah-apa-bedanya\/","title":{"rendered":"Cara Berpikir Diakronik dan Sinkronik dalam Sejarah, Apa Bedanya?"},"content":{"rendered":"<h2>Cara Berpikir Diakronik dan Sinkronik dalam Sejarah, Apa Bedanya?<\/h2>\n<p>Dalam mempelajari sejarah, terdapat berbagai cara pandang dan metode yang digunakan untuk memahami peristiwa di masa lalu. Dua di antaranya yang paling sering dibahas adalah cara berpikir diakronik dan cara berpikir sinkronik. Kedua pendekatan ini membantu kita melihat sejarah dari perspektif yang berbeda, sehingga pemahaman terhadap suatu peristiwa menjadi lebih menyeluruh.<\/p>\n<p>Lalu, apa sebenarnya pengertian dari diakronik dan sinkronik dalam sejarah? Apa pula perbedaan mendasar di antara keduanya?<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3>Pengertian Diakronik<\/h3>\n<p>Secara bahasa, istilah diakronik berasal dari Yunani, yakni \u201cdia\u201d yang berarti &#8220;melalui&#8221; atau &#8220;melewati&#8221;, serta \u201cchronos\u201d yang berarti &#8220;waktu&#8221;. Dengan demikian, diakronik dapat dipahami sebagai kajian yang memanjang dalam dimensi waktu, tetapi terbatas pada ruang tertentu.<br \/>\nDalam sejarah, cara berpikir diakronik identik dengan berpikir kronologis, yaitu menyusun peristiwa sesuai urutan waktunya, dari awal hingga akhir. Tujuannya agar tidak terjadi lompatan alur yang bisa menyebabkan kesalahan pemahaman. Melalui pendekatan ini, kita diajak menelusuri dan menganalisis peristiwa berdasarkan urutan jam, hari, minggu, bulan, hingga tahun.<\/li>\n<li>\n<h3>Pengertian Sinkronik<\/h3>\n<p>Istilah sinkronik juga berakar dari bahasa Yunani, terdiri dari kata \u201csyn\u201d yang bermakna &#8220;bersamaan&#8221; dan \u201cchronos\u201d yang berarti &#8220;waktu&#8221;. Dalam kajian sejarah, sinkronik dimaknai sebagai cara berpikir yang luas dalam ruang, tetapi terbatas pada satu kurun waktu tertentu.<br \/>\nPendekatan sinkronik lebih menekankan pada aspek-aspek yang menyertai suatu peristiwa, seperti penyebab, akibat, tokoh yang terlibat, lokasi, serta faktor-faktor lainnya. Dengan demikian, sinkronik bertujuan menggambarkan sebuah kejadian secara lebih detail dan mendalam.<\/li>\n<\/ul>\n<h3>Perbedaan Berpikir Diakronik dan Sinkronik dalam Sejarah<\/h3>\n<p>Perbedaan berpikir diakronik dan sinkronik dalam sejarah dapat dilihat dari ciri yang mendasar dari keduanya.<\/p>\n<h4>Dilansir dari laman detikedu, berikut adalah perbedaan ciri berpikir diakronik dan sinkronik:<\/h4>\n<ul>\n<li>\n<h5>Ciri-Ciri Cara Berpikir Diakronik<\/h5>\n<p>Beberapa karakteristik utama dalam cara berpikir diakronik antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Penjelasan disusun secara runtut dan berurutan.<\/li>\n<li>Fokus pada proses yang berlangsung dalam kurun waktu tertentu.<\/li>\n<li>Pembahasannya memiliki cakupan yang luas.<\/li>\n<li>Menguraikan detail dari suatu peristiwa secara berkelanjutan.<\/li>\n<li>Menelaah hubungan kesinambungan antar peristiwa.<\/li>\n<li>Melibatkan konsep perbandingan dalam analisis.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>\n<h5>Ciri-Ciri Cara Berpikir Sinkronik<\/h5>\n<p>Adapun beberapa ciri khas dalam cara berpikir sinkronik, di antaranya:<\/p>\n<ul>\n<li>Menganalisis peristiwa sejarah dalam periode waktu tertentu.<\/li>\n<li>Fokus pada pola, fenomena, dan karakteristik dari peristiwa tersebut.<\/li>\n<li>Penjelasan bersifat horizontal.<\/li>\n<li>Tidak menggunakan konsep perbandingan.<\/li>\n<li>Ruang lingkup kajiannya lebih terbatas.<\/li>\n<li>Pembahasannya dilakukan secara sistematis.<\/li>\n<li>Analisis disusun dengan mendalam dan serius.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Nah, itulah penjelasan mengenai pengertian diakronik dan sinkronik serta perbedaan ciri dari keduanya. Semoga artikel ini dapat membantu kamu mendapatkan wawasan yang lebih.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cara Berpikir Diakronik dan Sinkronik dalam Sejarah, Apa Bedanya? Dalam mempelajari sejarah, terdapat berbagai cara pandang dan metode yang digunakan untuk memahami peristiwa di masa lalu. Dua di antaranya yang paling sering dibahas adalah cara berpikir diakronik dan cara berpikir sinkronik. Kedua pendekatan ini membantu kita melihat sejarah dari perspektif yang berbeda, sehingga pemahaman terhadap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":36184,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[23327,23328,23324,23325,23326],"class_list":["post-36182","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ciri-ciri-cara-berpikir-diakronik","tag-ciri-ciri-cara-berpikir-sinkronik","tag-pengertian-diakronik","tag-pengertian-sinkronik","tag-perbedaan-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36182","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36182"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36182\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":36186,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36182\/revisions\/36186"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36184"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36182"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36182"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36182"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}