{"id":43513,"date":"2026-06-04T08:14:33","date_gmt":"2026-06-04T01:14:33","guid":{"rendered":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/?p=43513"},"modified":"2026-06-04T08:14:33","modified_gmt":"2026-06-04T01:14:33","slug":"jurusan-kuliah-ipa-yang-jarang-diminati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/jurusan-kuliah-ipa-yang-jarang-diminati\/","title":{"rendered":"Jurusan Kuliah IPA yang Jarang Diminati"},"content":{"rendered":"<p>Memilih jurusan kuliah IPA yang jarang diminati bisa menjadi strategi bagi calon mahasiswa yang ingin mencari peluang masuk lebih terbuka. Namun, keputusan ini tetap harus rasional. Jurusan yang sedikit peminat belum tentu buruk. Banyak jurusan sepi peminat justru memiliki prospek kuat karena dibutuhkan di bidang riset, industri, lingkungan, energi, pangan, dan teknologi.<\/p>\n<p>Data peminat setiap program studi bisa berubah setiap tahun. Karena itu, calon mahasiswa sebaiknya memeriksa data resmi daya tampung SNBT dari SNPMB sebelum memilih kampus dan jurusan. Laman SNPMB 2026 menyediakan informasi daya tampung program studi di PTN sebagai acuan awal untuk membaca peluang masuk.<\/p>\n<h2>Mengapa Ada Jurusan IPA yang Jarang Diminati?<\/h2>\n<p>Beberapa jurusan IPA jarang diminati karena dianggap sulit, terlalu teoretis, atau kurang dikenal oleh siswa SMA. Jurusan seperti fisika, kimia, biologi, geofisika, ilmu tanah, kehutanan, perikanan, dan peternakan sering kalah populer dibanding kedokteran, farmasi, teknik informatika, atau teknik industri.<\/p>\n<p>Padahal, dunia kerja masa depan tetap membutuhkan lulusan sains dan teknologi. World Economic Forum menyebutkan bahwa perubahan pekerjaan 2025 sampai 2030 banyak dipengaruhi oleh teknologi, big data, AI, transisi energi, dan perubahan ekonomi global. Artinya, lulusan IPA yang memiliki kemampuan analisis, riset, data, dan teknologi tetap memiliki nilai strategis di pasar kerja.<\/p>\n<h2>Contoh Jurusan Kuliah IPA yang Jarang Diminati<\/h2>\n<h3>Fisika<\/h3>\n<p>Fisika sering dianggap sulit karena banyak menggunakan matematika, eksperimen, dan konsep abstrak. Namun, jurusan ini penting untuk bidang energi, instrumentasi, material, komputasi, elektronika, dan riset teknologi. Lulusan fisika dapat bekerja di laboratorium, industri manufaktur, energi, telekomunikasi, data science, atau melanjutkan ke bidang riset.<\/p>\n<h3>Kimia<\/h3>\n<p>Kimia termasuk jurusan IPA yang tidak selalu menjadi pilihan utama, tetapi kebutuhannya luas. Jurusan ini berkaitan dengan industri farmasi, kosmetik, makanan, lingkungan, material, energi, dan laboratorium pengujian. Peluangnya lebih kuat jika mahasiswa menguasai analisis instrumen, quality control, keselamatan laboratorium, dan standar industri.<\/p>\n<h3>Biologi<\/h3>\n<p>Biologi sering dianggap hanya cocok untuk menjadi peneliti atau guru. Pandangan ini terlalu sempit. Biologi berkaitan dengan bioteknologi, mikrobiologi, konservasi, kesehatan lingkungan, pangan, dan riset hayati. Jika dikombinasikan dengan bioinformatika, data, atau teknologi laboratorium, prospeknya menjadi lebih luas.<\/p>\n<h3>Geofisika<\/h3>\n<p>Geofisika masih belum banyak dikenal, padahal ilmunya penting untuk eksplorasi sumber daya alam, mitigasi bencana, pemetaan bawah permukaan, energi, dan lingkungan. Jurusan ini cocok untuk siswa yang kuat di fisika, matematika, geologi, dan pemrosesan data.<\/p>\n<h3>Ilmu Tanah<\/h3>\n<p>Ilmu tanah sering kurang populer karena dianggap dekat dengan pertanian tradisional. Padahal, jurusan ini penting untuk ketahanan pangan, konservasi lahan, pemetaan tanah, reklamasi tambang, dan pengelolaan lingkungan. Di tengah isu perubahan iklim dan degradasi lahan, bidang ini tetap relevan.<\/p>\n<h3>Kehutanan<\/h3>\n<p>Kehutanan juga termasuk jurusan IPA yang sering kurang diminati. Namun, bidang ini berperan penting dalam konservasi, pengelolaan hutan, restorasi ekosistem, karbon, dan kebijakan lingkungan. Prospeknya bisa masuk ke sektor pemerintah, NGO, perusahaan kehutanan, ESG, dan konsultan lingkungan.<\/p>\n<h3>Perikanan dan Kelautan<\/h3>\n<p>Indonesia adalah negara maritim, tetapi jurusan perikanan dan kelautan belum selalu menjadi pilihan utama. Bidang ini penting untuk akuakultur, teknologi hasil perikanan, manajemen sumber daya laut, konservasi, dan industri pangan berbasis laut.<\/p>\n<h3>Peternakan<\/h3>\n<p>Peternakan sering dipandang kurang bergengsi, padahal kebutuhan pangan hewani terus ada. Jurusan ini berkaitan dengan produksi ternak, nutrisi, genetika, kesehatan hewan, manajemen peternakan, dan agribisnis. Peluangnya lebih baik jika mahasiswa memahami teknologi pangan, manajemen usaha, dan sistem produksi modern.<\/p>\n<h2>Cara Memilih Jurusan IPA Sepi Peminat<\/h2>\n<p>Memilih jurusan sepi peminat harus berbasis strategi, bukan asal memilih karena peluang masuk terlihat lebih mudah. Calon mahasiswa perlu menilai minat pribadi, kemampuan akademik, prospek kerja, kualitas kampus, akreditasi, fasilitas laboratorium, dan peluang magang. Data BPS tentang ketenagakerjaan Indonesia juga menunjukkan pentingnya membaca pasar kerja berdasarkan pendidikan, lapangan pekerjaan, jenis pekerjaan, jam kerja, dan rata-rata upah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Memilih jurusan kuliah IPA yang jarang diminati bisa menjadi strategi bagi calon mahasiswa yang ingin mencari peluang masuk lebih terbuka. Namun, keputusan ini tetap harus rasional. Jurusan yang sedikit peminat belum tentu buruk. Banyak jurusan sepi peminat justru memiliki prospek kuat karena dibutuhkan di bidang riset, industri, lingkungan, energi, pangan, dan teknologi. Data peminat setiap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":43514,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[287,851,29661,29662,29651,29654,29656,29653,29652,29650,29655,29657,29663,16869,29658,26246,29659,29660],"class_list":["post-43513","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-biologi","tag-fisika","tag-geofisika","tag-ilmu-tanah","tag-jurusan-ipa","tag-jurusan-ipa-berprospek","tag-jurusan-ipa-masa-depan","tag-jurusan-ipa-sepi-peminat","tag-jurusan-ipa-yang-jarang-diminati","tag-jurusan-kuliah-ipa","tag-jurusan-kuliah-sepi-peminat","tag-jurusan-sains","tag-kehutanan","tag-kimia","tag-kuliah-ipa","tag-perikanan","tag-pilihan-jurusan-ipa","tag-prospek-kerja-jurusan-ipa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43513","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43513"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43513\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":43515,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43513\/revisions\/43515"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/43514"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43513"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43513"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43513"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}