{"id":48177,"date":"2026-08-18T09:15:12","date_gmt":"2026-08-18T02:15:12","guid":{"rendered":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/?p=48177"},"modified":"2026-08-18T09:15:12","modified_gmt":"2026-08-18T02:15:12","slug":"bagaimana-pelangi-bisa-terbentuk-ini-penjelasan-ilmiahnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/bagaimana-pelangi-bisa-terbentuk-ini-penjelasan-ilmiahnya\/","title":{"rendered":"Bagaimana Pelangi Bisa Terbentuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya"},"content":{"rendered":"<h1>Bagaimana Pelangi Bisa Terbentuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya<\/h1>\n<p>Setelah hujan reda, langit terkadang dihiasi lengkungan warna-warni yang terlihat begitu indah. Fenomena tersebut dikenal sebagai pelangi. Kehadirannya sering dianggap sebagai pemandangan yang menakjubkan, tetapi di balik warna-warna tersebut terdapat proses ilmiah yang berkaitan dengan sifat cahaya.<\/p>\n<p>Pelangi tidak muncul secara kebetulan. Fenomena alam ini terjadi ketika cahaya Matahari berinteraksi dengan tetesan air di udara melalui proses pembiasan, pemantulan, dan penguraian cahaya. Lantas, bagaimana pelangi bisa terbentuk? Berikut penjelasan lengkapnya.<\/p>\n<h2>Apa Itu Pelangi?<\/h2>\n<p>Pelangi adalah fenomena optik berupa lengkungan cahaya berwarna-warni yang biasanya terlihat ketika terdapat tetesan air di atmosfer dan cahaya Matahari menyinarinya dari arah tertentu.<\/p>\n<p>Menurut penjelasan detikNews yang mengutip KBBI, pelangi merupakan lengkung spektrum warna di langit yang tampak akibat pembiasan sinar Matahari oleh titik-titik hujan atau embun.<\/p>\n<p>Ruangguru juga menjelaskan bahwa pelangi terbentuk karena cahaya putih mengalami penguraian menjadi berbagai warna ketika melewati tetesan air.<\/p>\n<h2>Bagaimana Pelangi Bisa Terbentuk?<\/h2>\n<p>Proses terbentuknya pelangi melibatkan beberapa peristiwa cahaya. Berikut tahapannya:<\/p>\n<h3>1. Cahaya Matahari Mengenai Tetesan Air<\/h3>\n<p>Cahaya Matahari yang terlihat berwarna putih sebenarnya terdiri atas berbagai warna cahaya. Ketika setelah hujan masih terdapat banyak tetesan air di udara, cahaya Matahari dapat mengenai tetesan tersebut.<\/p>\n<p>Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan pelangi. Karena itu, pelangi sering terlihat ketika hujan mulai reda dan Matahari kembali bersinar.<\/p>\n<h3>2. Cahaya Mengalami Pembiasan<\/h3>\n<p>Ketika cahaya Matahari masuk dari udara ke dalam tetesan air, kecepatannya berubah sehingga arah rambatnya ikut berubah. Peristiwa pembelokan cahaya saat melewati medium berbeda tersebut disebut pembiasan atau refraksi.<\/p>\n<p>Pembiasan ini menjadi salah satu tahapan utama dalam proses terbentuknya pelangi.<\/p>\n<h3>3. Cahaya Putih Diuraikan Menjadi Berbagai Warna<\/h3>\n<p>Cahaya Matahari yang tampak putih sebenarnya tersusun atas berbagai panjang gelombang. Ketika melewati tetesan air, setiap warna mengalami pembelokan dengan sudut yang berbeda.<\/p>\n<p>Peristiwa pemisahan cahaya putih menjadi berbagai warna disebut dispersi cahaya. Inilah yang membuat cahaya Matahari kemudian terlihat sebagai spektrum warna pelangi.<\/p>\n<h3>4. Cahaya Dipantulkan di Dalam Tetesan Air<\/h3>\n<p>Setelah mengalami pembiasan dan penguraian, cahaya mengenai bagian dalam tetesan air dan mengalami pemantulan internal. Cahaya kemudian kembali bergerak menuju bagian depan tetesan air sebelum keluar dan mengalami pembiasan lagi.<\/p>\n<p>Rangkaian pembiasan, penguraian, dan pemantulan inilah yang menghasilkan cahaya berwarna yang dapat ditangkap oleh mata manusia.<\/p>\n<h2>Mengapa Pelangi Memiliki Banyak Warna?<\/h2>\n<p>Pelangi umumnya terlihat dalam tujuh warna, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Merah<\/li>\n<li>Jingga<\/li>\n<li>Kuning<\/li>\n<li>Hijau<\/li>\n<li>Biru<\/li>\n<li>Nila<\/li>\n<li>Ungu<\/li>\n<\/ul>\n<p>Perbedaan warna tersebut terjadi karena masing-masing cahaya memiliki panjang gelombang yang berbeda sehingga mengalami pembiasan dengan sudut yang berbeda pula. Cahaya merah memiliki panjang gelombang lebih besar dibandingkan cahaya ungu.<\/p>\n<p>Dalam pembelajaran sekolah, urutan warna pelangi sering disingkat menjadi <strong>mejikuhibiniu<\/strong>, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.<\/p>\n<h2>Mengapa Pelangi Berbentuk Busur?<\/h2>\n<p>Pelangi terlihat seperti busur atau setengah lingkaran karena cahaya yang berasal dari tetesan air sampai ke mata pada sudut tertentu. Posisi Matahari dan pengamat menentukan bagian pelangi yang dapat terlihat.<\/p>\n<p>Ketika Matahari berada lebih rendah di langit, misalnya pada pagi atau sore hari, pelangi lebih mudah terlihat. Jika pengamat berada di tempat yang tinggi, seperti pesawat atau lokasi pegunungan tertentu, pelangi bahkan dapat terlihat lebih mendekati bentuk lingkaran.<\/p>\n<h2>Apakah Pelangi Hanya Muncul Setelah Hujan?<\/h2>\n<p>Tidak selalu. Hujan memang merupakan salah satu kondisi yang paling sering menghasilkan pelangi karena menyediakan banyak tetesan air di udara. Namun, secara prinsip, pelangi dapat terbentuk ketika terdapat cahaya Matahari dan tetesan air pada posisi yang sesuai.<\/p>\n<p>Karena itu, pelangi juga dapat terlihat di sekitar air terjun, kabut, atau percikan air selama terdapat sumber cahaya yang cukup dan posisi pengamat mendukung.<\/p>\n<h2>Mengapa Pelangi Tidak Bisa Didekati?<\/h2>\n<p>Pelangi bukan benda fisik yang berada di suatu tempat tertentu. Pelangi merupakan fenomena optik yang bergantung pada posisi sumber cahaya, tetesan air, dan pengamat.<\/p>\n<p>Akibatnya, ketika seseorang mencoba berjalan menuju pelangi, posisi dan sudut pandangnya juga berubah sehingga pelangi seolah-olah ikut berpindah. Inilah alasan seseorang tidak dapat benar-benar mencapai ujung pelangi.<\/p>\n<h2>Kesimpulan<\/h2>\n<p>Jadi, bagaimana pelangi bisa terbentuk? Pelangi terjadi ketika cahaya Matahari mengenai tetesan air di atmosfer. Cahaya tersebut kemudian mengalami pembiasan, dispersi, dan pemantulan di dalam tetesan air sebelum akhirnya sampai ke mata manusia.<\/p>\n<p>Proses tersebut menyebabkan cahaya putih Matahari terurai menjadi berbagai warna yang terlihat sebagai lengkungan indah di langit. Fenomena pelangi menjadi salah satu contoh nyata bahwa sifat-sifat cahaya dapat menghasilkan berbagai fenomena alam yang menarik untuk dipelajari.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagaimana Pelangi Bisa Terbentuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya Setelah hujan reda, langit terkadang dihiasi lengkungan warna-warni yang terlihat begitu indah. Fenomena tersebut dikenal sebagai pelangi. Kehadirannya sering dianggap sebagai pemandangan yang menakjubkan, tetapi di balik warna-warna tersebut terdapat proses ilmiah yang berkaitan dengan sifat cahaya. Pelangi tidak muncul secara kebetulan. Fenomena alam ini terjadi ketika cahaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48178,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[41128,41116,41121,41127,41125,41119,41130,41122,41118,41129,41126,41120,41117,41124,41123],"class_list":["post-48177","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-cahaya-matahari-dan-pelangi","tag-cara-pelangi-terbentuk","tag-dispersi-cahaya","tag-fenomena-alam-pelangi","tag-mengapa-pelangi-berbentuk-busur","tag-pelangi","tag-pelangi-setelah-hujan","tag-pemantulan-cahaya","tag-pengertian-pelangi","tag-penjelasan-ilmiah-pelangi","tag-penyebab-pelangi-muncul","tag-proses-pembiasan-cahaya","tag-proses-terbentuknya-pelangi","tag-tujuh-warna-pelangi","tag-warna-pelangi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48177","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48177"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48177\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48179,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48177\/revisions\/48179"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48178"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48177"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48177"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48177"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}