{"id":49812,"date":"2026-09-14T09:44:30","date_gmt":"2026-09-14T02:44:30","guid":{"rendered":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/?p=49812"},"modified":"2026-09-14T09:44:30","modified_gmt":"2026-09-14T02:44:30","slug":"apa-itu-kata-sapaan-ini-pengertian-dan-jenisnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/apa-itu-kata-sapaan-ini-pengertian-dan-jenisnya\/","title":{"rendered":"Apa Itu Kata Sapaan? Ini Pengertian dan Jenisnya"},"content":{"rendered":"<h1>Apa Itu Kata Sapaan? Ini Pengertian dan Jenisnya<\/h1>\n<p>Dalam berkomunikasi sehari-hari, setiap orang pasti menggunakan kata sapaan, baik disadari maupun tidak. Kata sapaan menjadi bagian penting dalam bahasa Indonesia karena berfungsi untuk menyapa, menegur, atau menyebut lawan bicara. Artikel ini akan membahas pengertian kata sapaan beserta jenis-jenisnya secara lengkap.<\/p>\n<h2>Pengertian Kata Sapaan<\/h2>\n<p>Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menyapa atau menyebut orang kedua, yaitu lawan bicara dalam suatu percakapan. Ahli bahasa Abdul Chaer menjelaskan bahwa kata sapaan merupakan kata-kata yang dipakai untuk menyapa, menegur, atau menyebut orang yang sedang diajak berbicara. Sementara itu, Roger Brown dan Albert Gilman mendefinisikan kata sapaan sebagai kata ganti yang dipakai untuk menyapa orang kedua.<\/p>\n<p>Penggunaan kata sapaan tidak terbatas pada percakapan antara dua orang saja, tetapi juga dapat digunakan dalam komunikasi kelompok. Bentuknya pun beragam, mulai dari yang bersifat formal hingga nonformal, tergantung pada situasi dan hubungan antara penutur dengan lawan bicaranya.<\/p>\n<h2>Jenis-Jenis Kata Sapaan<\/h2>\n<p>Kata sapaan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Kata ganti persona<\/strong>, yaitu kata yang menggantikan sebutan orang, seperti <em>aku<\/em>, <em>saya<\/em>, <em>kamu<\/em>, dan <em>engkau<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Nama diri<\/strong>, yaitu penggunaan nama seseorang secara langsung sebagai sapaan, misalnya <em>Budi<\/em> atau <em>Dewi<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Istilah kekerabatan<\/strong>, seperti <em>ibu<\/em>, <em>bapak<\/em>, <em>kakak<\/em>, dan <em>adik<\/em>, yang tidak selalu merujuk pada hubungan keluarga sedarah.<\/li>\n<li><strong>Gelar dan pangkat<\/strong>, seperti <em>dokter<\/em>, <em>kapten<\/em>, atau <em>pelatih<\/em>, yang menunjukkan jabatan atau profesi seseorang.<\/li>\n<li><strong>Kata pelaku<\/strong>, yaitu kata berimbuhan <em>pe-<\/em> yang menunjukkan peran, contohnya <em>pembaca<\/em> dan <em>pendengar<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Bentuk nominal<\/strong>, yaitu kata benda yang diikuti akhiran <em>-ku<\/em>, seperti <em>sayangku<\/em> dan <em>kekasihku<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Kata indeks<\/strong>, yaitu kata petunjuk yang maknanya berubah tergantung konteks pembicaraan, seperti <em>sana<\/em> dan <em>sini<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Nominal lain<\/strong>, seperti <em>tuan<\/em> dan <em>nyonya<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Ciri nol<\/strong>, yaitu kalimat sapaan yang tidak disertai bentuk kata sapaan secara eksplisit, misalnya kalimat &#8220;Sudah mau pergi?&#8221;<\/li>\n<\/ol>\n<h2>Fungsi Kata Sapaan<\/h2>\n<p>Selain menunjukkan siapa yang diajak bicara, kata sapaan juga memiliki beberapa fungsi lain, di antaranya menandai hubungan hormat, menandai keakraban antarpenutur, menunjukkan rasa sayang, serta mempertegas siapa yang dituju dalam sebuah percakapan.<\/p>\n<p>Pemilihan kata sapaan yang tepat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti usia, status sosial, situasi percakapan, dan tingkat kedekatan antara penutur dengan lawan bicara.<\/p>\n<h2>Aturan Penulisan Kata Sapaan<\/h2>\n<p>Kata sapaan yang berupa istilah kekerabatan atau sapaan hormat ditulis dengan huruf kapital pada awal kata apabila digunakan untuk menyapa langsung atau sebagai pengganti nama, misalnya &#8220;Selamat pagi, Bu Guru&#8221; atau &#8220;Mereka pergi ke rumah Pak Camat.&#8221; Namun, jika kata tersebut merujuk pada orang ketiga dalam kalimat berita biasa, penulisannya tidak menggunakan huruf kapital.<\/p>\n<h2>Penutup<\/h2>\n<p>Memahami kata sapaan sangat penting agar komunikasi berjalan sopan dan sesuai dengan konteks sosial. Dengan mengenal jenis serta fungsinya, seseorang dapat memilih kata sapaan yang tepat sesuai dengan siapa lawan bicaranya, baik dalam situasi formal maupun nonformal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa Itu Kata Sapaan? Ini Pengertian dan Jenisnya Dalam berkomunikasi sehari-hari, setiap orang pasti menggunakan kata sapaan, baik disadari maupun tidak. Kata sapaan menjadi bagian penting dalam bahasa Indonesia karena berfungsi untuk menyapa, menegur, atau menyebut lawan bicara. Artikel ini akan membahas pengertian kata sapaan beserta jenis-jenisnya secara lengkap. Pengertian Kata Sapaan Kata sapaan adalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":49813,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[46090,46088,46089,46094,46087,46093,46085,46091,46092,46086],"class_list":["post-49812","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-aturan-penulisan-kata-sapaan","tag-contoh-kata-sapaan","tag-fungsi-kata-sapaan","tag-istilah-kekerabatan","tag-jenis-jenis-kata-sapaan","tag-kata-ganti-persona","tag-kata-sapaan","tag-kata-sapaan-bahasa-indonesia","tag-kata-sapaan-dalam-komunikasi","tag-pengertian-kata-sapaan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49812","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=49812"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49812\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":49814,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49812\/revisions\/49814"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/49813"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=49812"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=49812"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=49812"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}