{"id":50966,"date":"2026-10-05T14:02:42","date_gmt":"2026-10-05T07:02:42","guid":{"rendered":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/?p=50966"},"modified":"2026-10-05T14:02:42","modified_gmt":"2026-10-05T07:02:42","slug":"kata-serapan-pengertian-jenis-dan-contohnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/kata-serapan-pengertian-jenis-dan-contohnya\/","title":{"rendered":"Kata Serapan: Pengertian, Jenis, dan Contohnya"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kata serapan<\/strong> banyak digunakan dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Tanpa disadari, sejumlah kosakata yang digunakan masyarakat bukan berasal dari bahasa Indonesia asli, melainkan dipengaruhi oleh berbagai bahasa lain, seperti Arab, Inggris, Belanda, Sanskerta, hingga bahasa daerah.<\/p>\n<p>Masuknya kosakata dari bahasa lain terjadi melalui interaksi antarbudaya yang berlangsung dalam waktu panjang. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, perdagangan, hingga hubungan sosial turut membuat kosakata bahasa Indonesia terus bertambah.<\/p>\n<h2>Pengertian Kata Serapan<\/h2>\n<p>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), <strong>kata serapan adalah kata yang diserap dari bahasa lain berdasarkan kaidah bahasa penerima<\/strong>.<\/p>\n<p>Artinya, suatu kata dapat disebut sebagai kata serapan ketika penggunaannya telah menyesuaikan dengan aturan bahasa Indonesia. Penyesuaian tersebut dapat mencakup ejaan, pelafalan, maupun makna kata.<\/p>\n<p>Proses penyerapan bahasa biasanya terjadi karena adanya hubungan atau kontak yang berlangsung dalam waktu lama antara penutur bahasa yang berbeda. Perdagangan, interaksi sosial, penjajahan, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi beberapa faktor yang turut memengaruhi proses tersebut.<\/p>\n<h2>Jenis-Jenis Kata Serapan<\/h2>\n<p>Berdasarkan proses masuknya ke dalam bahasa Indonesia, kata serapan dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu adopsi, adaptasi, penerjemahan, dan kreasi.<\/p>\n<h3>1. Adopsi<\/h3>\n<p><strong>Adopsi<\/strong> merupakan proses penyerapan kata dari bahasa asing ke bahasa Indonesia tanpa perubahan pada bentuk, ejaan, maupun pelafalannya.<\/p>\n<p>Dengan proses ini, kata dari bahasa asal digunakan secara utuh dalam bahasa Indonesia. Contohnya antara lain <strong>online, internet, hotel,<\/strong> dan <strong>supermarket<\/strong>.<\/p>\n<h3>2. Adaptasi<\/h3>\n<p><strong>Adaptasi<\/strong> adalah proses penyerapan kata asing dengan melakukan penyesuaian pada ejaan atau pelafalan agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.<\/p>\n<p>Contohnya adalah kata <strong>phase<\/strong> dari bahasa Inggris yang menjadi <strong>fase<\/strong> dalam bahasa Indonesia. Contoh lainnya adalah <strong>taqwa<\/strong> dari bahasa Arab yang diserap menjadi <strong>takwa<\/strong>.<\/p>\n<h3>3. Pungutan Terjemahan atau Penerjemahan<\/h3>\n<p>Jenis ini terjadi ketika istilah dari bahasa asing diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan tetap mempertahankan konsep atau makna yang terkandung di dalam istilah asalnya.<\/p>\n<p>Contohnya adalah <strong>download<\/strong> yang diterjemahkan menjadi <strong>unduh<\/strong>. Contoh lainnya adalah <strong>spare part<\/strong> yang diterjemahkan menjadi <strong>suku cadang<\/strong>.<\/p>\n<h3>4. Kreasi<\/h3>\n<p><strong>Kreasi<\/strong> merupakan proses penyerapan istilah asing dengan menyesuaikan konsep dan struktur ke dalam bahasa Indonesia. Proses ini tidak dilakukan dengan menerjemahkan setiap kata secara harfiah.<\/p>\n<p>Contohnya adalah <strong>shuttle cock<\/strong> yang diserap menjadi <strong>bulu tangkis<\/strong>. Contoh lainnya adalah <strong>effective<\/strong> dan <strong>efficient<\/strong> yang menjadi <strong>berdaya guna<\/strong> dan <strong>berhasil guna<\/strong>.<\/p>\n<h2>Contoh Kata Serapan Berdasarkan Bahasa Asalnya<\/h2>\n<p>Kosakata bahasa Indonesia mendapat pengaruh dari berbagai bahasa. Berikut beberapa contoh kata serapan berdasarkan bahasa asalnya.<\/p>\n<h3>1. Kata Serapan dari Bahasa Arab<\/h3>\n<p>Bahasa Indonesia diperkirakan menyerap sekitar dua ribu hingga tiga ribuan kata dari bahasa Arab. Sebagian kata tersebut tidak mengalami perubahan berarti, seperti <strong>kitab, wajib,<\/strong> dan <strong>khusus<\/strong>.<\/p>\n<p>Ada pula kosakata yang mengalami perubahan bentuk maupun makna. Contohnya adalah <strong>logat<\/strong> yang berasal dari kata <em>lughah<\/em> yang berarti bahasa atau aksen, <strong>naskah<\/strong> dari <em>nuskhatun<\/em> yang berarti secarik kertas, serta <strong>petuah<\/strong> dari <em>fatwa<\/em> yang berarti pendapat hukum.<\/p>\n<p>Contoh lainnya adalah <strong>laskar<\/strong> yang berasal dari <em>&#8216;askar<\/em> dengan arti prajurit.<\/p>\n<h3>2. Kata Serapan dari Bahasa Inggris<\/h3>\n<p>Bahasa Inggris menjadi salah satu sumber kosakata yang banyak memengaruhi bahasa Indonesia, terutama seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.<\/p>\n<p>Beberapa contohnya adalah <strong>komputer<\/strong> dari <em>computer<\/em>, <strong>internet<\/strong> yang diserap tanpa perubahan, <strong>manajemen<\/strong> dari <em>management<\/em>, serta <strong>fase<\/strong> dari <em>phase<\/em>.<\/p>\n<h3>3. Kata Serapan dari Bahasa Belanda<\/h3>\n<p>Sejarah hubungan Indonesia dengan Belanda turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan kosakata bahasa Indonesia. Beberapa kata yang berasal dari bahasa Belanda antara lain <strong>kantor<\/strong> dari <em>kantoor<\/em>, <strong>polisi<\/strong> dari <em>politie<\/em>, <strong>kualitas<\/strong> dari <em>kwaliteit<\/em>, dan <strong>asuransi<\/strong> dari <em>assurantie<\/em>.<\/p>\n<h3>4. Kata Serapan dari Bahasa Sanskerta<\/h3>\n<p>Bahasa Sanskerta memberikan pengaruh besar terhadap kosakata bahasa Indonesia sejak masa kerajaan Hindu-Buddha.<\/p>\n<p>Beberapa kosakata yang berasal dari bahasa Sanskerta antara lain <strong>bahasa, guru, negara, raja,<\/strong> dan <strong>manusia<\/strong>.<\/p>\n<h3>5. Kata Serapan dari Bahasa Daerah<\/h3>\n<p>Bahasa Indonesia tidak hanya menerima pengaruh dari bahasa asing. Berbagai bahasa daerah di Indonesia juga turut memperkaya kosakatanya, termasuk bahasa Jawa Kuno dan Jawa Baru.<\/p>\n<p>Dalam ragam percakapan, misalnya, terdapat penggunaan kata <strong>gua<\/strong> dan <strong>elu<\/strong> yang berkembang dari pengaruh bahasa daerah tertentu.<\/p>\n<h2>Cara Menuliskan Kata Serapan yang Tepat<\/h2>\n<p>Kata serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan berdasarkan tingkat penyesuaiannya. Ada unsur asing yang belum sepenuhnya terserap sehingga penulisannya masih mengikuti bentuk bahasa asal.<\/p>\n<p>Salah satu contohnya adalah kata <strong>online<\/strong> yang masih ditulis sesuai bentuk asalnya. Sementara itu, terdapat kata yang ejaan dan pelafalannya telah disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia, seperti <strong>fase<\/strong> dan <strong>takwa<\/strong>.<\/p>\n<p>Agar penulisan kata serapan tetap tepat, terutama untuk kosakata yang jarang digunakan, masyarakat dapat memeriksa bentuk dan penulisannya melalui <strong>Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring<\/strong>.<\/p>\n<h2>Kesimpulan<\/h2>\n<p><strong>Kata serapan merupakan bagian penting dari perkembangan bahasa Indonesia.<\/strong> Kosakata tersebut menunjukkan adanya hubungan dan pertukaran budaya yang berlangsung antara bahasa Indonesia dengan bahasa lain, baik bahasa asing maupun bahasa daerah.<\/p>\n<p>Memahami pengertian, jenis, serta contoh kata serapan dapat membantu masyarakat menggunakan kosakata bahasa Indonesia secara lebih tepat. Selain itu, keberadaan kata serapan menunjukkan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti perubahan dan kebutuhan masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kata serapan banyak digunakan dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Tanpa disadari, sejumlah kosakata yang digunakan masyarakat bukan berasal dari bahasa Indonesia asli, melainkan dipengaruhi oleh berbagai bahasa lain, seperti Arab, Inggris, Belanda, Sanskerta, hingga bahasa daerah. Masuknya kosakata dari bahasa lain terjadi melalui interaksi antarbudaya yang berlangsung dalam waktu panjang. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, perdagangan, hingga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":50967,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[48935,48934,48932,48938,48937,48940,48936,48939,48941,48933],"class_list":["post-50966","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-contoh-kata-serapan","tag-jenis-kata-serapan","tag-kata-serapan","tag-kata-serapan-bahasa-arab","tag-kata-serapan-bahasa-asing","tag-kata-serapan-bahasa-belanda","tag-kata-serapan-bahasa-indonesia","tag-kata-serapan-bahasa-inggris","tag-kata-serapan-bahasa-sanskerta","tag-pengertian-kata-serapan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50966","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50966"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50966\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":50968,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50966\/revisions\/50968"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50967"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50966"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50966"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50966"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}