{"id":52384,"date":"2026-10-27T10:25:49","date_gmt":"2026-10-27T03:25:49","guid":{"rendered":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/?p=52384"},"modified":"2026-10-27T10:25:49","modified_gmt":"2026-10-27T03:25:49","slug":"sejarah-sumpah-pemuda-dan-tokoh-di-baliknya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/sejarah-sumpah-pemuda-dan-tokoh-di-baliknya\/","title":{"rendered":"Sejarah Sumpah Pemuda dan Tokoh di Baliknya"},"content":{"rendered":"<p>Sumpah Pemuda merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ikrar ini tercetus dalam Kongres Pemuda II yang diselenggarakan di Batavia, sekarang Jakarta, pada 27\u201328 Oktober 1928. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari tumbuhnya kesadaran nasionalisme di kalangan pemuda Indonesia dan memperkuat gagasan bahwa perjuangan meraih kemerdekaan perlu dilakukan melalui persatuan bangsa.<\/p>\n<p>Lahirnya Sumpah Pemuda tidak terlepas dari proses panjang yang dimulai melalui Kongres Pemuda I pada 1926, peran organisasi kepemudaan, serta keterlibatan sejumlah tokoh yang mendorong terbentuknya persatuan.<\/p>\n<h2>Sejarah Terbentuknya Sumpah Pemuda 1928<\/h2>\n<p>Sumpah Pemuda tercetus dalam Kongres Pemuda II sebagai kelanjutan dari Kongres Pemuda I yang berlangsung pada 30 April\u20132 Mei 1926. Kedua kongres tersebut menandai fase penting dalam perkembangan kesadaran nasionalisme di kalangan pemuda Indonesia.<\/p>\n<p>Kongres Pemuda I dihadiri oleh perwakilan organisasi pemuda dari berbagai daerah. Tujuannya adalah mengedepankan paham persatuan dan kebangsaan serta mempererat hubungan antarperkumpulan kebangsaan. Namun, kongres tersebut belum berhasil menyatukan seluruh organisasi pemuda yang berbasis kedaerahan dan golongan di Hindia Belanda.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, Kongres Pemuda I memperkuat gagasan bahwa bahasa merupakan alat penting untuk menjalin persatuan. Kongres tersebut menyepakati Bahasa Melayu sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia, sedangkan bahasa daerah lainnya berperan memperkaya bahasa bangsa.<\/p>\n<h2>Peran Organisasi Pemuda dalam Persiapan Kongres Pemuda II<\/h2>\n<p>Setelah Kongres Pemuda I, gagasan untuk menyatukan organisasi kepemudaan terus berkembang. Perhimpunan Pelajar-Pelajar di Indonesia (PPPI), yang terbentuk sekitar September 1926, menjadi salah satu organisasi yang aktif mendorong penyatuan organisasi pemuda di Hindia Belanda.<\/p>\n<p>Pada 1926\u20131928, para aktivis PPPI mengadakan pertemuan dengan pimpinan berbagai organisasi kepemudaan, termasuk Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi, dan Jong Sumatranen Bond.<\/p>\n<p>Rangkaian koordinasi tersebut berlanjut melalui pertemuan para wakil organisasi pemuda pada 3 Mei 1928 dan 12 Agustus 1928 di gedung Indonesische Clubgebouw, Weltevreden, Batavia. Kedua pertemuan itu menghasilkan keputusan untuk menyelenggarakan Kongres Pemuda II pada 27\u201328 Oktober 1928.<\/p>\n<h2>Tokoh-Tokoh di Balik Sumpah Pemuda<\/h2>\n<p>Penyelenggaraan Kongres Pemuda II melibatkan perwakilan dari sembilan organisasi kepemudaan. Berikut susunan panitia yang berperan dalam pelaksanaan kongres tersebut.<\/p>\n<ol>\n<li>Soegondo Djojopoespito \u2014 Ketua dari PPPI.<\/li>\n<li>R. M. Djoko Marsaid \u2014 Wakil Ketua dari Jong Java.<\/li>\n<li>Muhammad Yamin \u2014 Sekretaris dari Jong Sumatranen Bond.<\/li>\n<li>Amir Sjarifuddin \u2014 Bendahara dari Jong Bataks Bond.<\/li>\n<li>Djohan Mohammad Tjai \u2014 Pembantu I dari Jong Islamieten Bond.<\/li>\n<li>R. Katjasoengkana \u2014 Pembantu II dari Pemoeda Indonesia.<\/li>\n<li>R. C. L. Senduk \u2014 Pembantu III dari Jong Celebes.<\/li>\n<li>Johannes Leimena \u2014 Pembantu IV dari Jong Ambon.<\/li>\n<li>Mohamad Rocjani Soe&#8217;oed \u2014 Pembantu V dari Pemoeda Kaoem Betawi.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Panitia tersebut merancang pelaksanaan Kongres Pemuda II selama satu hari dua malam. Biaya penyelenggaraan kongres berasal dari patungan tujuh organisasi pemuda dan sumbangan dari berbagai pihak.<\/p>\n<h2>Pelaksanaan Kongres Pemuda II<\/h2>\n<p>Kongres Pemuda II diselenggarakan pada 27\u201328 Oktober 1928 di tiga tempat berbeda. Penggunaan tiga lokasi dilakukan untuk menghindari pengawasan intel pemerintah kolonial Belanda.<\/p>\n<p>Ketiga lokasi tersebut adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Gedung Katholieke Jongenlingen Bond di Waterlooplein, sekarang berada di dekat Lapangan Banteng, Jakarta.<\/li>\n<li>Gedung Oost Java Bioscoop di Koningsplein Noord, sekarang di Jalan Medan Merdeka Utara 14, Jakarta.<\/li>\n<li>Gedung Indonesische Clubgebouw, sekarang di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Kongres tersebut menghasilkan sejumlah keputusan mengenai persatuan bangsa, bahasa Indonesia, dan penguatan rasa kebangsaan. Hasil kongres menegaskan bahwa persatuan bangsa didasarkan pada kesamaan hukum nasional, budaya, sejarah, dan bahasa. Selain itu, semangat persatuan juga diharapkan dapat disebarluaskan melalui pers.<\/p>\n<h2>Peristiwa Pembacaan Sumpah Pemuda<\/h2>\n<p>Pada Minggu malam, 28 Oktober 1928, keputusan Kongres Pemuda II dibacakan di Gedung Indonesische Clubgebouw. Sebelum keputusan tersebut diumumkan, Wage Rudolf Supratman memperdengarkan lagu <em>Indonesia Raya<\/em> dengan alunan biolanya.<\/p>\n<p>Atas alasan keamanan, Soegondo Djojopoespito selaku ketua kongres meminta Wage Rudolf Supratman memainkan lagu tersebut tanpa syair.<\/p>\n<p>Acara Kongres Pemuda II kemudian ditutup dengan pembacaan ikrar Sumpah Pemuda yang terdiri atas tiga bagian berikut.<\/p>\n<h3>Pertama: Satu Tanah Air<\/h3>\n<blockquote><p>Kami Putera dan Puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.<\/p><\/blockquote>\n<h3>Kedua: Satu Bangsa<\/h3>\n<blockquote><p>Kami Putera dan Puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.<\/p><\/blockquote>\n<h3>Ketiga: Bahasa Persatuan<\/h3>\n<blockquote><p>Kami Putera dan Puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.<\/p><\/blockquote>\n<p>Ketiga ikrar tersebut menegaskan tekad para pemuda untuk mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, yaitu Indonesia.<\/p>\n<h2>Hasil Kongres Pemuda II dan Upaya Penyatuan Organisasi<\/h2>\n<p>Setelah Kongres Pemuda II, hasil keputusan kongres dan gagasan penyatuan organisasi atau fusi diajukan kepada sejumlah organisasi kepemudaan untuk mendapatkan pengakuan. Namun, tidak semua organisasi menyepakati gagasan tersebut.<\/p>\n<p>Sejumlah organisasi yang pada akhirnya menyepakati rencana penyatuan antara lain Jong Java, Pemuda Indonesia, Pemoeda Indonesia, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, dan Sekar Roekoen.<\/p>\n<h2>Kesimpulan<\/h2>\n<p>Sejarah Sumpah Pemuda berawal dari upaya para pemuda Indonesia untuk memperkuat persatuan melalui Kongres Pemuda I pada 1926 dan dilanjutkan dengan Kongres Pemuda II pada 27\u201328 Oktober 1928. Organisasi kepemudaan, panitia kongres, serta tokoh-tokoh seperti Soegondo Djojopoespito, Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, dan Wage Rudolf Supratman memiliki peran dalam rangkaian peristiwa tersebut.<\/p>\n<p>Sumpah Pemuda menjadi simbol tekad untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Peristiwa ini memperkuat gagasan bahwa perjuangan bangsa perlu didasarkan pada persatuan, bukan perpecahan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumpah Pemuda merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ikrar ini tercetus dalam Kongres Pemuda II yang diselenggarakan di Batavia, sekarang Jakarta, pada 27\u201328 Oktober 1928. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari tumbuhnya kesadaran nasionalisme di kalangan pemuda Indonesia dan memperkuat gagasan bahwa perjuangan meraih kemerdekaan perlu dilakukan melalui persatuan bangsa. Lahirnya Sumpah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":52385,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[53345,17458,51847,53377,53341,677,53376,53375,53378,53373,53379,51837,17457,53372,17606,53374,17620,53344,47293],"class_list":["post-52384","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ikrar-sumpah-pemuda","tag-isi-sumpah-pemuda","tag-kongres-pemuda-ii-1928","tag-latar-belakang-sumpah-pemuda","tag-makna-sumpah-pemuda","tag-muhammad-yamin","tag-organisasi-pemuda-indonesia","tag-panitia-kongres-pemuda-ii","tag-peran-pemuda-dalam-kemerdekaan-indonesia","tag-peristiwa-sumpah-pemuda","tag-perjuangan-persatuan-bangsa-indonesia","tag-sejarah-kongres-pemuda-i","tag-sejarah-sumpah-pemuda","tag-sejarah-sumpah-pemuda-1928","tag-soegondo-djojopoespito","tag-tanggal-sumpah-pemuda","tag-tokoh-sumpah-pemuda","tag-tujuan-sumpah-pemuda","tag-wage-rudolf-supratman"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52384","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52384"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52384\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52386,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52384\/revisions\/52386"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52385"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52384"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52384"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52384"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}