{"id":52640,"date":"2026-10-29T10:09:16","date_gmt":"2026-10-29T03:09:16","guid":{"rendered":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/?p=52640"},"modified":"2026-10-29T10:09:16","modified_gmt":"2026-10-29T03:09:16","slug":"frasa-pengertian-ciri-ciri-dan-jenis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/frasa-pengertian-ciri-ciri-dan-jenis\/","title":{"rendered":"Frasa: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Jenis"},"content":{"rendered":"<p>Dalam kajian sintaksis bahasa Indonesia, frasa merupakan salah satu satuan bahasa yang berperan penting dalam pembentukan kalimat. Frasa membantu menggabungkan kata-kata menjadi satu kesatuan makna sehingga gagasan dapat disampaikan dengan lebih jelas dan terstruktur.<\/p>\n<p>Untuk memahami penggunaannya, penting mengetahui pengertian frasa, ciri-cirinya, serta jenis-jenis frasa berdasarkan kelas kata, hubungan antarunsur, dan maknanya. Berikut penjelasan lengkap beserta contohnya.<\/p>\n<h2>Pengertian Frasa<\/h2>\n<p>Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif, yaitu tidak membentuk hubungan subjek dan predikat secara lengkap. Gabungan kata tersebut menjadi satu kesatuan gramatikal dan dapat menduduki fungsi tertentu dalam kalimat, seperti subjek, predikat, objek, pelengkap, atau keterangan.<\/p>\n<p>Frasa berbeda dari kata karena terdiri atas beberapa kata, sedangkan frasa juga berbeda dari klausa dan kalimat karena tidak membentuk struktur predikatif yang lengkap. Contohnya adalah <em>gunung tinggi<\/em>, <em>kolam ikan<\/em>, dan <em>sedang membaca<\/em>. Ketiga gabungan kata tersebut memiliki makna, tetapi belum tentu dapat berdiri sendiri sebagai kalimat lengkap.<\/p>\n<h2>Ciri-Ciri Frasa<\/h2>\n<p>Frasa memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dari satuan bahasa lain. Berikut beberapa ciri utama frasa dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Terdiri atas dua kata atau lebih.<\/strong> Frasa terbentuk dari gabungan beberapa kata yang menjadi satu kesatuan gramatikal.<\/li>\n<li><strong>Menduduki satu fungsi gramatikal.<\/strong> Dalam kalimat, frasa dapat berfungsi sebagai subjek, predikat, objek, pelengkap, atau keterangan.<\/li>\n<li><strong>Memiliki makna sebagai satu kesatuan.<\/strong> Unsur-unsur pembentuknya saling berkaitan untuk menyampaikan makna tertentu.<\/li>\n<li><strong>Bersifat nonpredikatif.<\/strong> Frasa tidak membentuk hubungan subjek dan predikat yang lengkap seperti klausa.<\/li>\n<li><strong>Unsur-unsurnya saling berhubungan.<\/strong> Hubungan antarkata membentuk satu kesatuan, meskipun unsur tertentu masih dapat diubah atau dihilangkan sesuai konteks.<\/li>\n<\/ol>\n<h2>Jenis-Jenis Frasa<\/h2>\n<p>Frasa dapat dikelompokkan berdasarkan kelas kata yang menjadi intinya, hubungan antarunsur pembentuknya, serta makna dan kedudukan unsur-unsurnya.<\/p>\n<h3>1. Jenis Frasa Berdasarkan Kelas Kata Inti<\/h3>\n<p>Berdasarkan kelas kata yang menjadi inti atau pusatnya, frasa dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berikut.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Frasa verba:<\/strong> frasa yang intinya berupa kata kerja. Contoh: <em>sedang berlayar<\/em> dan <em>akan pergi<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Frasa nominal:<\/strong> frasa yang intinya berupa kata benda. Contoh: <em>kolam ikan<\/em> dan <em>buku baru<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Frasa adjektiva:<\/strong> frasa yang intinya berupa kata sifat. Contoh: <em>sangat cantik<\/em> dan <em>cukup luas<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Frasa adverbial:<\/strong> frasa yang berfungsi sebagai keterangan atau memiliki inti berupa kata keterangan. Contoh: <em>sangat cepat<\/em> dan <em>hampir selalu<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Frasa numeralia:<\/strong> frasa yang berkaitan dengan bilangan atau jumlah. Contoh: <em>tiga buah<\/em> dan <em>dua puluh orang<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Frasa preposisional:<\/strong> frasa yang diawali kata depan atau preposisi. Contoh: <em>di pasar<\/em>, <em>dari rumah<\/em>, dan <em>ke sekolah<\/em>.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pengelompokan tersebut membantu mengenali fungsi dan unsur utama dalam sebuah frasa. Adapun konjungsi atau kata hubung biasanya berperan menghubungkan unsur bahasa, bukan menjadi kategori inti frasa yang lazim digunakan dalam pengelompokan dasar.<\/p>\n<h3>2. Jenis Frasa Berdasarkan Hubungan Antarunsur<\/h3>\n<p>Berdasarkan hubungan antarunsurnya, frasa dibedakan menjadi frasa endosentrik dan frasa eksosentrik.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Frasa endosentrik:<\/strong> frasa yang memiliki unsur inti sehingga salah satu unsurnya dapat mewakili fungsi keseluruhan frasa dalam kalimat. Frasa ini dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk.<\/li>\n<li><strong>Frasa eksosentrik:<\/strong> frasa yang tidak memiliki unsur inti yang dapat menggantikan keseluruhan frasa dalam fungsi sintaksisnya. Contohnya adalah <em>di pasar<\/em> dan <em>ke sekolah<\/em>.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Frasa endosentrik dapat dibedakan menjadi frasa atributif, koordinatif, dan apositif.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Frasa atributif:<\/strong> terdiri atas unsur inti dan unsur yang menerangkan inti. Contoh: <em>mahasiswa rajin<\/em> dan <em>buku tebal<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Frasa koordinatif:<\/strong> terdiri atas unsur-unsur yang sederajat. Contoh: <em>ayah dan ibu<\/em> serta <em>besar atau kecil<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Frasa apositif:<\/strong> memiliki unsur yang saling menjelaskan dan merujuk pada hal yang sama. Contoh: <em>Rina, ketua kelas kami,<\/em> sedang berbicara.<\/li>\n<\/ul>\n<h3>3. Jenis Frasa Berdasarkan Makna dan Kedudukan Unsur<\/h3>\n<p>Frasa juga dapat dikelompokkan berdasarkan hubungan makna dan kedudukan unsur-unsur pembentuknya. Beberapa jenis yang sering dibahas adalah sebagai berikut.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Frasa setara:<\/strong> frasa yang unsur-unsurnya memiliki kedudukan sejajar. Contoh: <em>ayah ibu<\/em> dan <em>jual beli<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Frasa subordinatif:<\/strong> frasa yang unsur-unsurnya tidak sederajat karena satu unsur menjadi inti dan unsur lainnya menerangkan. Contoh: <em>rumah besar<\/em> dan <em>baju merah<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Frasa biasa:<\/strong> frasa yang maknanya dapat dipahami secara langsung atau denotatif. Contoh: <em>meja kayu<\/em> dan <em>air dingin<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Frasa idiomatik:<\/strong> gabungan kata yang memiliki makna kiasan dan tidak selalu dapat dipahami dari arti setiap katanya. Contoh: <em>kambing hitam<\/em> yang berarti pihak yang dipersalahkan.<\/li>\n<li><strong>Frasa ambigu:<\/strong> gabungan kata yang dapat menimbulkan lebih dari satu penafsiran. Maknanya bergantung pada konteks penggunaannya. Contoh: <em>guru baru<\/em>, yang dapat berarti guru yang baru diangkat atau guru yang masih baru dalam suatu lingkungan.<\/li>\n<\/ul>\n<h2>Penutup<\/h2>\n<p>Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan gramatikal tanpa membentuk hubungan subjek dan predikat secara lengkap. Frasa memiliki ciri serta jenis yang dapat dikenali berdasarkan kelas kata inti, hubungan antarunsur, dan maknanya.<\/p>\n<p>Memahami pengertian, ciri-ciri, dan jenis frasa menjadi dasar penting untuk mempelajari klausa serta kalimat dalam bahasa Indonesia. Dengan mengenali struktur dan fungsi frasa, seseorang dapat menyusun kalimat yang lebih tepat, jelas, dan mudah dipahami.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam kajian sintaksis bahasa Indonesia, frasa merupakan salah satu satuan bahasa yang berperan penting dalam pembentukan kalimat. Frasa membantu menggabungkan kata-kata menjadi satu kesatuan makna sehingga gagasan dapat disampaikan dengan lebih jelas dan terstruktur. Untuk memahami penggunaannya, penting mengetahui pengertian frasa, ciri-cirinya, serta jenis-jenis frasa berdasarkan kelas kata, hubungan antarunsur, dan maknanya. Berikut penjelasan lengkap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":52641,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[54379,13378,13379,13384,54384,54382,54383,54381,54380,13380],"class_list":["post-52640","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ciri-ciri-frasa","tag-contoh-frasa","tag-frasa-adjektiva","tag-frasa-adverbial","tag-frasa-endosentrik-dan-eksosentrik","tag-frasa-nominal","tag-frasa-preposisional","tag-frasa-verba","tag-jenis-jenis-frasa","tag-pengertian-frasa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52640","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52640"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52640\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52642,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52640\/revisions\/52642"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52641"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52640"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52640"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52640"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}