{"id":52985,"date":"2026-11-03T10:18:28","date_gmt":"2026-11-03T03:18:28","guid":{"rendered":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/?p=52985"},"modified":"2026-11-03T10:18:28","modified_gmt":"2026-11-03T03:18:28","slug":"kriteria-tinjauan-pustaka-dalam-karya-ilmiah-yang-perlu-diketahui-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/kriteria-tinjauan-pustaka-dalam-karya-ilmiah-yang-perlu-diketahui-2\/","title":{"rendered":"Kriteria Tinjauan Pustaka dalam Karya Ilmiah yang Perlu Diketahui"},"content":{"rendered":"<p>Tinjauan pustaka merupakan bagian penting dalam sebuah karya ilmiah. Bagian ini berfungsi menunjukkan bahwa suatu penelitian memiliki dasar teori yang kuat dan tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan penelitian-penelitian terdahulu. Namun, tidak semua sumber pustaka dapat begitu saja dimasukkan ke dalam karya ilmiah. Ada sejumlah kriteria yang perlu dipenuhi agar tinjauan pustaka yang disusun benar-benar berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.<\/p>\n<h2>1. Mutakhir (Recency)<\/h2>\n<p>Ilmu pengetahuan terus berkembang, sehingga sumber referensi yang digunakan sebaiknya merupakan hasil penelitian yang masih relevan dengan perkembangan terkini. Menggunakan literatur yang terlalu lama berisiko membuat karya ilmiah tertinggal dari perkembangan teori atau temuan baru di bidang tersebut. Semakin baru sumber yang digunakan, semakin besar pula kemungkinan penelitian tersebut mampu menjawab persoalan terkini secara lebih akurat.<\/p>\n<h2>2. Relevan<\/h2>\n<p>Kriteria kedua yang tidak kalah penting adalah relevansi. Setiap sumber yang dicantumkan dalam tinjauan pustaka harus memiliki keterkaitan langsung dengan topik dan dasar teori penelitian yang sedang dikerjakan. Sumber yang tidak relevan hanya akan membuat pembahasan melebar dan mengaburkan fokus penelitian, sehingga penulis perlu selektif dalam memilih literatur yang benar-benar mendukung permasalahan yang dibahas.<\/p>\n<h2>3. Bobot Ilmiah<\/h2>\n<p>Sumber pustaka yang digunakan tidak boleh dipilih secara sembarangan. Literatur tersebut harus bersifat ilmiah, misalnya berasal dari jurnal terakreditasi, buku akademik, atau tulisan yang ditulis oleh penulis yang kompeten dalam bidang tersebut. Bobot ilmiah ini menjadi jaminan bahwa informasi yang dikutip dapat dipercaya dan telah melalui proses penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.<\/p>\n<h2>4. Aspek Penelitian<\/h2>\n<p>Tinjauan pustaka juga harus mampu menjelaskan aspek-aspek penelitian secara tepat. Artinya, penulis perlu menguraikan konteks penelitian dengan jelas serta membangun argumentasi yang saling berkaitan secara logis antara satu sumber dengan sumber lainnya. Dengan begitu, pembaca dapat memahami bagaimana posisi penelitian yang sedang dilakukan di antara penelitian-penelitian sebelumnya.<\/p>\n<h2>5. Padat<\/h2>\n<p>Kriteria terakhir adalah kepadatan penulisan. Tinjauan pustaka sebaiknya disusun dengan bahasa yang lugas, tidak bertele-tele, namun tetap mudah dipahami. Penulisan yang padat akan memudahkan pembaca memahami inti dari setiap sumber yang dirujuk, sekaligus menjadikan tinjauan pustaka tersebut sebagai pedoman yang jelas untuk tahap penelitian selanjutnya.<\/p>\n<h2>Penutup<\/h2>\n<p>Agar tinjauan pustaka yang disusun benar-benar memenuhi standar karya ilmiah, kelima kriteria tersebut harus diperhatikan secara bersamaan. Dengan memenuhi kriteria tersebut, penulis dapat menunjukkan bahwa penelitiannya memiliki landasan teori yang kuat, terpercaya, dan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidang yang diteliti.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tinjauan pustaka merupakan bagian penting dalam sebuah karya ilmiah. Bagian ini berfungsi menunjukkan bahwa suatu penelitian memiliki dasar teori yang kuat dan tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan penelitian-penelitian terdahulu. Namun, tidak semua sumber pustaka dapat begitu saja dimasukkan ke dalam karya ilmiah. Ada sejumlah kriteria yang perlu dipenuhi agar tinjauan pustaka yang disusun benar-benar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":52986,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[55182,55245,25554,55179,53787,25555,55247,55244,55246,55180],"class_list":["post-52985","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-cara-menyusun-tinjauan-pustaka","tag-ciri-ciri-tinjauan-pustaka","tag-fungsi-tinjauan-pustaka","tag-kriteria-tinjauan-pustaka","tag-landasan-teori-penelitian","tag-pengertian-tinjauan-pustaka","tag-referensi-karya-ilmiah","tag-syarat-tinjauan-pustaka","tag-tinjauan-pustaka-karya-ilmiah","tag-tujuan-tinjauan-pustaka"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52985","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52985"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52985\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52987,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52985\/revisions\/52987"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52986"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52985"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52985"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52985"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}