{"id":53166,"date":"2026-11-05T12:21:34","date_gmt":"2026-11-05T05:21:34","guid":{"rendered":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/?p=53166"},"modified":"2026-11-05T12:21:34","modified_gmt":"2026-11-05T05:21:34","slug":"sejarah-kerajaan-sriwijaya-dan-peninggalannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/sejarah-kerajaan-sriwijaya-dan-peninggalannya\/","title":{"rendered":"Sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Peninggalannya"},"content":{"rendered":"<p>Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar yang pernah berkembang di Nusantara. Kerajaan ini memiliki pengaruh luas dalam bidang perdagangan, politik, ekonomi, dan pelayaran di kawasan Asia Tenggara. Sriwijaya juga berperan penting dalam perkembangan agama Buddha di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Nama Sriwijaya berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu kata <em>Sri<\/em> yang berarti cahaya dan <em>Wijaya<\/em> yang berarti kemenangan. Jika digabungkan, nama tersebut memiliki makna kemenangan yang gemilang.<\/p>\n<p>Kerajaan Sriwijaya diperkirakan berdiri sekitar abad ke-7 Masehi dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa sebagai pendirinya. Pada masa kejayaannya, kerajaan ini menguasai jalur perdagangan penting, terutama Selat Malaka. Wilayah pengaruhnya meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, Kamboja, hingga sebagian wilayah Jawa.<\/p>\n<p>Informasi mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari catatan sejarah Tiongkok, tulisan para musafir Arab, hingga prasasti batu yang ditemukan di sejumlah wilayah Asia Tenggara.<\/p>\n<h2>Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya<\/h2>\n<p>Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan sebagai kekuatan maritim yang mampu mengendalikan jalur pelayaran dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Salah satu faktor utama yang mendukung kekuatan kerajaan ini adalah armada lautnya yang besar.<\/p>\n<p>Selain mengawasi jalur perdagangan, Sriwijaya juga membangun sejumlah kawasan strategis yang berfungsi sebagai pangkalan militer. Tempat-tempat tersebut digunakan untuk melindungi kapal dagang, memungut pajak, serta mempertahankan wilayah kekuasaan kerajaan.<\/p>\n<p>Kebesaran Sriwijaya turut dicatat oleh sejumlah penulis asing. Salah satunya adalah Al Masudi, seorang musafir dan sejarawan Arab. Dalam catatannya pada tahun 955 Masehi, ia menyebut Sriwijaya dengan nama Sribuza sebagai kerajaan besar dan kaya raya yang memiliki jumlah tentara sangat banyak.<\/p>\n<p>Al Masudi juga menggambarkan luasnya wilayah kekuasaan Sriwijaya. Bahkan, menurut catatannya, kapal tercepat sekalipun membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mengelilingi seluruh pulau yang berada di bawah pengaruh kerajaan tersebut.<\/p>\n<p>Kekayaan Sriwijaya tidak hanya berasal dari perdagangan laut. Kerajaan ini juga memiliki beragam hasil bumi, seperti kapur barus, kayu gaharu, cengkih, kayu cendana, pala, kapulaga, dan gambir.<\/p>\n<p>Kemajuan bidang pertanian Sriwijaya juga tercatat dalam informasi yang disampaikan Abu Zaid Hasan, seorang ahli dari Persia. Berdasarkan keterangan pedagang Arab bernama Sujaimana, Kerajaan Zabaj yang dikaitkan dengan Sriwijaya atau Jawa memiliki tanah yang subur serta pengaruh luas hingga ke lautan.<\/p>\n<h2>Masa Pemerintahan Balaputradewa<\/h2>\n<p>Balaputradewa merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Ia kemudian dinobatkan sebagai Maharaja Sriwijaya dan menyatakan dirinya sebagai pewaris sah wangsa Sailendra dari Jawa.<\/p>\n<p>Hubungan keluarga Balaputradewa dengan Pramodhawardhani dan Samaratungga masih memiliki beberapa penafsiran di kalangan sejarawan. Menurut teori Bosch dan De Casparis, Balaputradewa merupakan anak Samaratungga sekaligus adik Pramodhawardhani.<\/p>\n<p>Berbeda dengan pendapat tersebut, sejarawan Muljana menyebut Balaputradewa sebagai anak Rakai Warak dan adik Samaratungga. Dengan demikian, ia merupakan paman Pramodhawardhani.<\/p>\n<p>Perbedaan pendapat juga muncul mengenai proses Balaputradewa memperoleh kekuasaan di Sumatra. Sebagian sejarawan berpendapat bahwa ia menguasai cabang Sumatra dari wangsa Sailendra dan menjalankan pemerintahan dari pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang.<\/p>\n<p>Hubungan Balaputradewa dengan Sriwijaya juga dikaitkan dengan ibunya, Dewi Tara, yang disebut sebagai putri Sriwijaya. Ia kemudian dikenal sebagai salah satu penguasa yang berperan penting dalam perkembangan kerajaan tersebut.<\/p>\n<h2>Letak Pusat Kerajaan Sriwijaya<\/h2>\n<p>Lokasi pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Salah satu pendapat yang banyak dikenal dikemukakan oleh G. Coedes pada tahun 1918. Ia menyebutkan bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya berada di Palembang.<\/p>\n<p>Palembang kemudian banyak dianggap sebagai pusat pemerintahan Sriwijaya. Namun, terdapat pula pendapat lain yang menyebutkan bahwa pusat kekuasaan kerajaan ini berada di Kedah, Muara Takus, atau Jambi.<\/p>\n<p>Perbedaan pandangan tersebut muncul karena Sriwijaya merupakan kerajaan bercorak maritim yang diduga memiliki kebiasaan memindahkan pusat kekuasaannya sesuai dengan kebutuhan pemerintahan dan perdagangan.<\/p>\n<h2>Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya<\/h2>\n<p>Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran akibat sejumlah faktor yang berkaitan dengan kepemimpinan, kondisi wilayah, dan aktivitas perdagangan. Beberapa hal berikut disebut turut memengaruhi melemahnya kekuasaan kerajaan tersebut.<\/p>\n<h3>1. Kepemimpinan yang Mengalami Kemunduran<\/h3>\n<p>Setelah masa pemerintahan Balaputradewa berakhir sekitar tahun 835 Masehi, Sriwijaya disebut mengalami kesulitan dalam menemukan pemimpin yang mampu mengelola pemerintahan dengan baik.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut secara bertahap memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap kerajaan. Situasi semakin memburuk akibat serangan dari kerajaan lain serta munculnya pemberontakan di sejumlah wilayah.<\/p>\n<h3>2. Pendangkalan Sungai Musi<\/h3>\n<p>Letak pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang juga dikaitkan dengan salah satu penyebab kemundurannya. Proses pengendapan lumpur di sekitar muara Sungai Musi menyebabkan pendangkalan sungai semakin cepat.<\/p>\n<p>Akibatnya, kapal-kapal dagang mengalami kesulitan untuk mencapai pusat kerajaan dan melakukan kegiatan perdagangan di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Padahal, pajak dari aktivitas perdagangan merupakan salah satu sumber pendapatan utama Sriwijaya untuk membiayai pemerintahan dan mempertahankan kekuasaannya.<\/p>\n<h3>3. Berkurangnya Aktivitas Perdagangan<\/h3>\n<p>Pendangkalan Sungai Musi berdampak pada berkurangnya jumlah kapal dagang yang singgah di pusat kerajaan. Keadaan ini kemudian memengaruhi kegiatan ekonomi dan pendapatan Sriwijaya.<\/p>\n<p>Selain itu, lokasi pusat pemerintahan yang semakin jauh dari akses laut membuat wilayah tersebut tidak lagi strategis bagi kapal-kapal dagang.<\/p>\n<p>Menurunnya aktivitas perdagangan menyebabkan penerimaan pajak ikut berkurang. Akibatnya, perekonomian kerajaan semakin melemah dan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.<\/p>\n<h2>Peninggalan Kerajaan Sriwijaya<\/h2>\n<p>Keberadaan Kerajaan Sriwijaya dapat diketahui melalui berbagai peninggalan sejarah, terutama prasasti dan bangunan candi. Peninggalan tersebut menjadi sumber penting untuk mempelajari kehidupan politik, pemerintahan, perdagangan, serta keagamaan pada masa kerajaan.<\/p>\n<p>Berikut beberapa peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang dikenal dalam catatan sejarah.<\/p>\n<h3>1. Prasasti Kedukan Bukit<\/h3>\n<p>Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di sekitar tepian Sungai Batang, Kedukan Bukit, Kota Palembang. Prasasti ini bertanggal 686 Masehi dan ditulis menggunakan huruf Pallawa serta bahasa Sanskerta.<\/p>\n<p>Isinya menceritakan perjalanan Dapunta Hyang yang menaiki perahu serta mengisahkan kemenangan Kerajaan Sriwijaya.<\/p>\n<h3>2. Prasasti Kota Kapur<\/h3>\n<p>Prasasti Kota Kapur ditemukan di bagian barat Pulau Bangka. Peninggalan ini berisi kutukan bagi orang-orang yang berani melanggar perintah Raja Sriwijaya.<\/p>\n<h3>3. Prasasti Talang Tuo<\/h3>\n<p>Prasasti Talang Tuo berisi doa Buddha Mahayana serta kisah pembangunan sebuah taman oleh Sri Jayanasa.<\/p>\n<p>Prasasti ini menjadi salah satu sumber sejarah yang memberikan gambaran mengenai kehidupan keagamaan dan kepedulian terhadap lingkungan pada masa Kerajaan Sriwijaya.<\/p>\n<h3>4. Prasasti Telaga Batu<\/h3>\n<p>Prasasti Telaga Batu ditemukan di Kolam Telaga Biru, Kecamatan Ilir Timur, Kota Palembang.<\/p>\n<p>Isi prasasti tersebut berkaitan dengan kutukan terhadap orang-orang jahat yang berada di sekitar wilayah Kerajaan Sriwijaya.<\/p>\n<h3>5. Prasasti Karang Berahi<\/h3>\n<p>Prasasti Karang Berahi ditemukan di Desa Karang Berahi, Jambi. Prasasti ini berisi kutukan terhadap orang-orang yang bersikap jahat dan tidak setia kepada Raja Sriwijaya.<\/p>\n<h3>6. Prasasti Palas Pasemah<\/h3>\n<p>Prasasti Palas Pasemah ditemukan di sekitar pinggir rawa Desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Peninggalan ini ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.<\/p>\n<p>Isinya berkaitan dengan kutukan terhadap orang-orang yang tidak setia kepada Raja Sriwijaya.<\/p>\n<h3>7. Prasasti Ligor<\/h3>\n<p>Prasasti Ligor ditemukan di wilayah Thailand bagian selatan, tepatnya di Nakhon Si Thammarat.<\/p>\n<p>Prasasti ini memuat informasi mengenai seorang Raja Sriwijaya yang membangun Tisamaya Caitya untuk Kajara.<\/p>\n<h3>8. Prasasti Hujung Langit<\/h3>\n<p>Prasasti Hujung Langit ditemukan di Desa Haur Kuning, Lampung. Di dalam prasasti tersebut terdapat angka tahun yang menunjukkan 997 Masehi.<\/p>\n<h3>9. Prasasti Leiden<\/h3>\n<p>Prasasti Leiden merupakan peninggalan sejarah yang ditulis pada lempengan tembaga menggunakan bahasa Sanskerta dan Tamil.<\/p>\n<p>Isi prasasti tersebut menceritakan hubungan antara Dinasti Chola dan Dinasti Syailendra dari Kerajaan Sriwijaya.<\/p>\n<h3>10. Candi Muara Takus<\/h3>\n<p>Candi Muara Takus merupakan salah satu peninggalan bercorak Buddha yang dikaitkan dengan masa Kerajaan Sriwijaya. Kompleks candi ini berada di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.<\/p>\n<p>Candi Muara Takus memiliki ciri khas berupa susunan stupa di bagian atas bangunannya. Di dalam kompleks tersebut juga terdapat beberapa bangunan, yaitu Candi Bungus, Candi Sulung, Stupa Mahligai, dan Stupa Palangka.<\/p>\n<h3>11. Prasasti Nalanda<\/h3>\n<p>Prasasti Nalanda ditemukan di Nalanda, India. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Dewapaladewa dari Benggala dan ditulis menggunakan bahasa Sanskerta.<\/p>\n<p>Isinya menceritakan permintaan Raja Balaputradewa dari Suwarnadwipa atau Sriwijaya kepada Raja Dewapaladewa untuk mendirikan sebuah vihara di Nalanda.<\/p>\n<p>Prasasti tersebut juga menyebutkan bahwa lima desa di Calcutta, yang sekarang dikenal sebagai Kolkata, India, dibebaskan dari pajak untuk mendukung kegiatan keagamaan Buddha dari Kerajaan Sriwijaya.<\/p>\n<p>Walaupun ditemukan di luar Indonesia, Prasasti Nalanda menjadi salah satu sumber sejarah penting yang memberikan informasi mengenai keberadaan Sriwijaya serta hubungannya dengan wilayah India.<\/p>\n<h3>12. Candi Muaro Jambi<\/h3>\n<p>Candi Muaro Jambi merupakan kompleks candi bercorak Hindu-Buddha yang terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi.<\/p>\n<p>Kompleks candi ini memiliki luas sekitar 3.981 hektare dan disebut sebagai salah satu kompleks candi terluas di Asia Tenggara.<\/p>\n<p>Para arkeolog memperkirakan bahwa Candi Muaro Jambi dibangun antara abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi.<\/p>\n<h2>Kesimpulan<\/h2>\n<p>Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Nusantara. Kejayaannya didukung oleh kekuatan armada laut, penguasaan jalur perdagangan strategis, kekayaan hasil bumi, serta perkembangan bidang pertanian.<\/p>\n<p>Namun, Sriwijaya kemudian mengalami kemunduran akibat berbagai faktor, seperti masalah kepemimpinan, pendangkalan Sungai Musi, dan berkurangnya aktivitas perdagangan.<\/p>\n<p>Berbagai peninggalan berupa prasasti dan candi menjadi bukti sejarah keberadaan Kerajaan Sriwijaya. Peninggalan tersebut juga memberikan gambaran mengenai kehidupan politik, ekonomi, perdagangan, dan keagamaan pada masa kejayaannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar yang pernah berkembang di Nusantara. Kerajaan ini memiliki pengaruh luas dalam bidang perdagangan, politik, ekonomi, dan pelayaran di kawasan Asia Tenggara. Sriwijaya juga berperan penting dalam perkembangan agama Buddha di wilayah tersebut. Nama Sriwijaya berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu kata Sri yang berarti cahaya dan Wijaya yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":53167,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[51720,55775,55776,40281,55769,55766,55767,51713,55770,55773,51717,51719,55774,55771,51718,55772,55768,51722,51715],"class_list":["post-53166","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-candi-muara-takus","tag-candi-muaro-jambi","tag-kerajaan-maritim-terbesar-di-nusantara","tag-kerajaan-sriwijaya","tag-letak-pusat-kerajaan-sriwijaya","tag-masa-kejayaan-kerajaan-sriwijaya","tag-pendiri-kerajaan-sriwijaya","tag-peninggalan-kerajaan-sriwijaya","tag-penyebab-runtuhnya-kerajaan-sriwijaya","tag-prasasti-karang-berahi","tag-prasasti-kedukan-bukit","tag-prasasti-kota-kapur","tag-prasasti-nalanda","tag-prasasti-peninggalan-sriwijaya","tag-prasasti-talang-tuo","tag-prasasti-telaga-batu","tag-raja-balaputradewa","tag-sejarah-kerajaan-hindu-buddha-di-indonesia","tag-sejarah-kerajaan-sriwijaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53166","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53166"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53166\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53168,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53166\/revisions\/53168"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53167"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53166"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53166"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53166"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}