{"id":9710,"date":"2024-04-08T10:06:47","date_gmt":"2024-04-08T03:06:47","guid":{"rendered":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/?p=9710"},"modified":"2024-08-24T11:58:22","modified_gmt":"2024-08-24T04:58:22","slug":"cara-mencegah-usus-buntu-tanpa-operasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/cara-mencegah-usus-buntu-tanpa-operasi\/","title":{"rendered":"Cara Mencegah Usus Buntu Tanpa Operasi"},"content":{"rendered":"<h2>Cara Mencegah Usus Buntu Tanpa Operasi<\/h2>\n<p>Usus buntu merupakan suatu bagian pada usus besar yang berbentuk tubular buntu dengan panjang rata-rata 8-9 cm dan terletak di daerah kanan bawah dari rongga perut. Dengan berbagai sebab, organ ini dapat mengalami peradangan (appendicitis) dan paling sering terjadi pada kelompok usia 10-20 tahun.<\/p>\n<p>Penyakit ini sangat berbahaya bila terlambat ditangani, karena appendix dapat pecah, sehingga terjadi infeksi berat (sepsis) yang dapat mengancam nyawa pasien. Gejala yang sering dirasakan pada penderita radang usus buntu adalah nyeri pada perut. Nyeri awalnya dirasakan disekitar pusar, kemudian berpindah ke daerah kanan bawah dari perut.<\/p>\n<p>Gejala lain yang dirasakan oleh pasien antara lain, demam, perut kembung, mual dan muntah, konstipasi atau diare. Gejala-gejala yang disebutkan diatas biasanya disertai dengan peningkatan sel darah putih (Leukosit) pada pemeriksaan laboratorium.<\/p>\n<h4><script src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-0032959964480376\" async=\"\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><br \/>\n<!-- berita15093 --><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-0032959964480376\" data-ad-slot=\"4364056964\" data-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/h4>\n<h3>Berikut Mencegah Usus Buntu:<\/h3>\n<ol>\n<li>\n<h4>Hindari Makanan Pedas<\/h4>\n<p>Cara mencegah usus buntu juga dapat dilakukan dengan menghindari makanan pedas. Karena makanan pedas bisa mengiritasi dan meningkatkan peradangan usus sehingga bisa memicu masalah pencernaan yang menyebabkan buang air besar terhambat dan akan terjadi penumpukan feses.<\/li>\n<li>\n<h4>Perbanyak Minum Air Putih<\/h4>\n<p>Memperbanyak minum air putih adalah salah satu cara mencegah usus buntu secara alami yang sangat mudah dilakukan. Kamu membutuhkan air putih sebanyak 2 liter atau sekitar 8 gelas setiap hari agar dapat memaksimalkan kerja usus.<\/p>\n<h4><script src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-0032959964480376\" async=\"\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><br \/>\n<!-- berita15092 --><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-0032959964480376\" data-ad-slot=\"6990220303\" data-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Cek Kesehatan ke Dokter secara Rutin<\/h4>\n<p>Cara mencegah usus buntu yang lainnya yaitu dengan rutin melakukan cek kesehatan ke dokter. Ini perlu dilakukan terutama jika kamu memiliki keluarga yang pernah mengalami cedera pada perut atau mempunyai kesamaan riwayat penyakit.<\/li>\n<li>\n<h4>Hindari Makanan dan Minuman Tinggi Gula atau Pemanis Buatan<\/h4>\n<p>Hidangan tinggi gula atau yang mengandung pemanis buatan, seperti aspartam, sakarin, dan sukralosa melewati tubuh tanpa dicerna. Namun, pemanis akan bersentuhan dengan bakteri baik di usus dan mungkin mengganggu keseimbangan mikroflora di dalam saluran pencernaan.<\/li>\n<li>\n<h4>Mengonsumsi Antibiotik<\/h4>\n<p>Pengobatan bisa dilakukan dengan menggunakan antibiotik untuk usus buntu dan obat-obatan lain untuk meredakan gejala. Obat yang bisa diberikan, antara lain amoksisilin yang dikombinasikan dengan asam klavulanat beserta sefotaksim atau fluoroquinolon. Selain itu, dokter juga akan memberikan obat seperti metronidazole atau tinidazole.<\/p>\n<h4><script src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-0032959964480376\" async=\"\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><br \/>\n<!-- berita1509 --><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-0032959964480376\" data-ad-slot=\"4952334034\" data-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/h4>\n<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cara Mencegah Usus Buntu Tanpa Operasi Usus buntu merupakan suatu bagian pada usus besar yang berbentuk tubular buntu dengan panjang rata-rata 8-9 cm dan terletak di daerah kanan bawah dari rongga perut. Dengan berbagai sebab, organ ini dapat mengalami peradangan (appendicitis) dan paling sering terjadi pada kelompok usia 10-20 tahun. Penyakit ini sangat berbahaya bila [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9711,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[6578,6575,6574,6577,6576,6579],"class_list":["post-9710","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-apa-itu-usus-buntu","tag-cara-mencegah-usus-buntu","tag-cara-mengatasi-usus-buntu","tag-gejala-usus-buntu","tag-penyebab-usus-buntu","tag-usus-buntu-adalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9710","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9710"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9710\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23158,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9710\/revisions\/23158"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9711"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9710"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9710"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umsu.ac.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9710"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}