Parafrase adalah teknik menyampaikan kembali suatu tuturan atau tulisan menggunakan susunan kata yang berbeda tanpa mengubah makna aslinya. Teknik ini banyak digunakan dalam kegiatan menulis untuk menghindari plagiarisme, memperjelas gagasan, serta membuat informasi lebih mudah dipahami pembaca.
Berdasarkan bentuk dan cara penyusunannya, parafrase dapat dibedakan menjadi enam jenis. Setiap jenis memiliki karakteristik dan cara penerapan yang berbeda. Berikut penjelasan lengkap beserta contohnya.
1. Parafrase Ekuivalen
Parafrase ekuivalen merupakan pengungkapan kembali suatu kalimat menggunakan satuan bahasa lain yang memiliki makna hampir sama. Jenis ini sering ditemukan dalam proses penerjemahan, ketika penerjemah mencari padanan makna yang paling sesuai dengan teks sumber tanpa harus menerjemahkan setiap kata secara harfiah.
Tujuan parafrase ekuivalen adalah mempertahankan pesan utama meskipun pilihan kata dan susunan kalimatnya berubah.
Contoh:
- Kalimat asli: “Dia bekerja dengan sangat rajin.”
- Hasil parafrase: “Dia menunjukkan etos kerja yang tinggi.”
2. Parafrase Keantoniman Ingkaran
Parafrase keantoniman ingkaran adalah teknik menyusun ulang kalimat dengan menggunakan kata yang berlawanan makna, kemudian menambahkan bentuk ingkaran atau negasi. Cara ini dilakukan agar maksud kalimat tetap sama meskipun kata yang digunakan berbeda.
Dalam penerapannya, penulis perlu memperhatikan hubungan makna antara kata antonim dan bentuk negasi agar pesan yang disampaikan tidak berubah.
Contoh:
- Kalimat asli: “Soal itu mudah dikerjakan.”
- Hasil parafrase: “Soal itu tidak sulit dikerjakan.”
3. Parafrase Generik-Spesifik
Parafrase generik-spesifik dilakukan dengan mengganti kata bermakna umum menjadi kata yang lebih khusus, atau sebaliknya. Penggantian tersebut harus tetap mempertahankan maksud utama kalimat.
Jenis parafrase ini berkaitan dengan cakupan makna suatu kata. Kata yang bersifat generik memiliki arti lebih luas, sedangkan kata spesifik merujuk pada sesuatu yang lebih terperinci.
Contoh:
- Kalimat asli: “Dia memelihara hewan di rumah.”
- Hasil parafrase: “Dia memelihara kucing di rumah.”
4. Parafrase Amplifikasi
Parafrase amplifikasi adalah teknik mengungkapkan kembali kalimat dengan menambahkan informasi atau penjelasan tertentu. Penambahan tersebut bertujuan membuat gagasan dalam kalimat asli menjadi lebih terperinci dan mudah dipahami.
Informasi tambahan dalam parafrase amplifikasi sebaiknya tetap relevan dengan konteks sumber. Penulis juga perlu membedakan informasi yang benar-benar terdapat dalam sumber dan penjelasan tambahan yang berasal dari interpretasinya sendiri.
Contoh:
- Kalimat asli: “Ia lulus ujian.”
- Hasil parafrase: “Ia berhasil lulus ujian nasional setelah belajar tekun selama berbulan-bulan.”
5. Parafrase Kontraksi
Berbeda dengan amplifikasi, parafrase kontraksi dilakukan dengan mempersingkat kalimat melalui pengurangan sebagian informasi. Meskipun lebih ringkas, inti pesan yang ingin disampaikan tetap dipertahankan.
Jenis ini berguna ketika penulis ingin menyampaikan informasi secara lebih singkat tanpa menghilangkan gagasan utama. Namun, informasi penting yang memengaruhi pemahaman pembaca tidak boleh dihapus.
Contoh:
- Kalimat asli: “Karena hujan turun sangat deras sejak pagi, akhirnya acara di lapangan itu terpaksa dibatalkan oleh panitia.”
- Hasil parafrase: “Hujan deras membuat acara itu batal.”
6. Parafrase Rangkuman
Parafrase rangkuman merupakan teknik menyusun kembali beberapa satuan bahasa menjadi bentuk yang lebih ringkas. Dalam prosesnya, penulis mengambil gagasan utama dari teks sumber, kemudian menyampaikannya menggunakan kalimat sendiri.
Jenis ini berbeda dari sekadar memangkas isi tulisan. Parafrase rangkuman tetap berusaha mempertahankan pesan utama sumber, meskipun disajikan dalam bentuk yang jauh lebih singkat.
Contoh:
- Teks asli: Sebuah paragraf panjang yang menjelaskan manfaat olahraga bagi kesehatan tubuh, kebugaran jantung, daya tahan fisik, serta kesehatan pikiran.
- Hasil parafrase: “Olahraga rutin menjaga kesehatan fisik sekaligus mental.”
Kesimpulan
Keenam jenis parafrase tersebut menunjukkan bahwa menyampaikan kembali suatu teks tidak sekadar mengganti kata dengan sinonim. Proses ini membutuhkan pemahaman menyeluruh terhadap isi dan maksud sumber agar informasi yang disampaikan tetap akurat.
Dengan memahami parafrase ekuivalen, keantoniman ingkaran, generik-spesifik, amplifikasi, kontraksi, dan rangkuman, penulis dapat mengolah informasi menjadi tulisan yang lebih jelas dan mudah dipahami. Penerapan parafrase secara tepat juga membantu penulis menyampaikan gagasan orang lain secara etis dengan tetap mencantumkan sumber apabila menggunakan ide atau informasi milik pihak lain.



