Apa Itu Hari Tasyrik? Berikut Sejarah dan Pengertiannya
Hari Tasyrik kerap disandingkan dengan Hari Raya Idul Adha. Namun, apa sebenarnya Hari Tasyrik itu? Berikut penjelasan lengkap tentang pengertian, sejarah, dan amalan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut.
Pengertian Hari Tasyrik
Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Kata “tasyrik” berasal dari bahasa Arab “syarraqa” yang berarti “matahari terbit” atau “menjemur sesuatu.” Ini mengacu pada tradisi menjemur daging kurban untuk mengawetkannya, karena pada masa Nabi Muhammad SAW, belum ada teknologi pendingin seperti kulkas.
Sejarah dan Makna Hari Tasyrik
Menurut Syekh Ibnu Manzur dalam karyanya Lisan al-Arab, ada dua pendapat utama mengenai asal usul nama “tasyrik”:
Menjemur Daging Kurban: Pada masa Rasulullah SAW, daging kurban yang melimpah disimpan dengan cara dijemur agar tahan lama. Oleh karena itu, hari-hari setelah Idul Adha disebut “Hari Tasyrik”.
Ritual Kurban Setelah Matahari Terbit: Kurban dilaksanakan setelah matahari terbit. Pada hari-hari Tasyrik, umat Islam dilarang berpuasa karena dianjurkan untuk menikmati hidangan dari daging kurban dan memperbanyak ibadah.
Hari Tasyrik disebut sebagai hari agung dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr (Hari Tasyrik)” (HR. Abu Daud).
Kapan Hari Tasyrik 2024?
Pada tahun 2024, 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 8 Juni berdasarkan hasil sidang isbat awal Dzulhijjah Kemenag. Maka, Hari Tasyrik akan jatuh pada:
-
11 Dzulhijjah 1445 H: Selasa, 18 Juni 2024
-
12 Dzulhijjah 1445 H: Rabu, 19 Juni 2024
-
13 Dzulhijjah 1445 H: Kamis, 20 Juni 2024
Larangan dan Amalan di Hari Tasyrik
Larangan Berpuasa
Pada Hari Tasyrik, umat Islam dilarang berpuasa. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW:
“Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma, keduanya berkata: “Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari tasyrik kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan hewan qurban ketika menunaikan haji.” (HR. Bukhari, no. 1859)
Amalan yang Dianjurkan
-
Memperbanyak Takbir
Disunahkan untuk memperbanyak takbir, terutama di tempat umum. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada hari Tasyrik sambil bertakbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir.
-
Memperbanyak Tahlil, Tahmid, dan Takbir
Ibnu Hajar Al-Asqalani mengutip hadits yang menganjurkan umat Islam untuk membaca tahlil, tahmid, dan takbir pada Hari Tasyrik.
-
Menyembelih Hewan Kurban
Bagi yang mampu, disarankan untuk menyembelih hewan kurban. Ini sesuai dengan perintah dalam surat Al-Kautsar ayat 2: “Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”
-
Menikmati Hidangan Makanan dan Minuman
Pada Hari Tasyrik, umat Islam dianjurkan untuk menikmati makanan dan minuman sebagai bentuk syukur. Rasulullah SAW bersabda, “Hari-hari tasyrik adalah hari menikmati makanan dan minuman.”
-
Membaca Doa Sapu Jagad
Dianjurkan untuk memperbanyak doa, termasuk doa sapu jagad berikut:
“رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ”
Arab Latin: “Wa minhum mai yaquulu rabbanaaa aatina fid dunyaa hasanatawn wa fil aakhirati hasanatanw wa qinaa azaaban Naar”
Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (Al-Baqarah: 201)
Hari Tasyrik adalah momen istimewa untuk memperbanyak ibadah, bersyukur, dan saling berbagi. Semoga umat Islam dapat memanfaatkan hari-hari ini dengan sebaik-baiknya untuk meraih keberkahan dan rahmat dari Allah SWT.

