Apa Itu Tunalaras? Berikut Pengertiannya!
Tunalaras adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan emosi dan penyimpangan perilaku. Anak tunalaras kerap kali menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku, sehingga sering kali dianggap sebagai anak “nakal” oleh masyarakat awam. Padahal, tunalaras merupakan kondisi serius yang memerlukan perhatian dan layanan pendidikan khusus.
Pengertian Tunalaras
Menurut Maria Agustin Ambarsari dalam buku Mengenal ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) (2022), tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Perilaku anak tunalaras cenderung menyimpang dari norma yang berlaku, seperti berkelahi, memukul, tidak mau bekerja sama, serta sering menunjukkan sikap agresif dan penolakan terhadap aturan.
Tunalaras juga disebut sebagai behavioral disorder atau gangguan perilaku dan emosi, yang membuat anak sulit menyesuaikan diri di lingkungan rumah, sekolah, maupun masyarakat.
Faktor Penyebab Tunalaras
Tunalaras dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri (internal) maupun lingkungan (eksternal):
-
Faktor Biologis
Gangguan pada sistem saraf, kelainan genetik, kurang gizi, atau disfungsi otak dapat menyebabkan anak mengalami tunalaras.
-
Faktor Keluarga
Pola asuh yang keras, tidak konsisten, atau lingkungan keluarga yang penuh konflik dapat memengaruhi emosi dan perilaku anak.
-
Faktor Sekolah
Kegagalan dalam beradaptasi di lingkungan sekolah, seperti tidak mendapatkan perhatian dari guru atau teman, bisa menyebabkan stres dan agresivitas.
-
Faktor Budaya dan Media
Tayangan kekerasan di media atau internet dapat memberi contoh buruk dan memicu perilaku menyimpang pada anak.
Ciri-Ciri Anak Tunalaras
Berikut beberapa karakteristik umum anak tunalaras:
-
Sering menunjukkan perilaku agresif seperti memukul atau menyerang teman.
-
Pemarah, suka pamer, dan mencari perhatian.
-
Enggan mengikuti aturan, suka melanggar norma.
-
Tidak memiliki ketenangan jiwa, sering gelisah.
-
Menyendiri, curiga terhadap orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri.
-
Tidak bisa bekerja sama, tidak mau mengakui kesalahan, dan suka menyalahkan orang lain.
Karakteristik Tunalaras Berdasarkan Aspek
-
Akademik
Anak tunalaras cenderung memiliki prestasi belajar di bawah rata-rata, sering membolos, tidak naik kelas, dan kurang motivasi untuk belajar.
-
Sosial dan Emosional
Mereka memiliki kecenderungan agresif, sulit bersosialisasi, dan tidak diterima oleh lingkungan sekitar.
-
Fisik
Beberapa anak juga menunjukkan hambatan fisik yang menyertai kondisi emosional dan perilaku mereka.
Klasifikasi Tunalaras
Menurut William M. dalam buku Pendidikan Inklusi untuk ABK (2022), anak tunalaras dibagi ke dalam lima kategori:
-
The semi-socialize child: Anak yang bisa bersosialisasi, tetapi hanya dalam kelompok terbatas seperti keluarga.
-
Children arrested at a primitive level of socialization: Anak yang perkembangan sosialnya terhenti di level rendah.
-
Children with minimum socialization capacity: Anak yang tidak mampu belajar sikap sosial.
-
Neurotic behavior: Anak yang bisa bersosialisasi tapi tidak mampu mengatasi masalah sendiri.
-
Children with psychotic processes: Anak yang membutuhkan penanganan medis atau psikologis intensif.
Berdasarkan Derajat Penyimpangannya
-
Taraf Ringan: Anak menunjukkan penyimpangan perilaku ringan dan masih bisa diarahkan.
-
Taraf Sedang: Memerlukan pelayanan khusus dalam pendidikan dan sosial.
-
Taraf Berat: Sudah masuk dalam pelanggaran hukum dan sangat mengganggu ketertiban umum.
Penanganan dan Pendidikan Anak Tunalaras
Anak tunalaras membutuhkan layanan pendidikan khusus agar potensinya dapat berkembang secara optimal. Dengan pendidikan yang tepat, bimbingan dari tenaga profesional, dan dukungan lingkungan, anak tunalaras tetap memiliki peluang untuk hidup mandiri dan beradaptasi secara sosial.
Kesimpulan:
Tunalaras bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan kondisi khusus yang menyangkut gangguan emosi dan perilaku. Pemahaman yang tepat sangat diperlukan agar masyarakat dapat memberikan dukungan yang sesuai bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus ini. Deteksi dini dan pendekatan yang holistik akan sangat membantu dalam proses pendidikan dan rehabilitasi mereka.

