Apa Sih yang Dimaksud dengan Tunarungu? Berikut Pengertiannya!
Tunarungu dan tuli adalah dua istilah yang kerap muncul ketika membahas tentang keterbatasan pendengaran. Meski sering dianggap memiliki arti yang sama, sebenarnya keduanya memiliki makna yang berbeda, baik secara medis maupun dalam konteks budaya. Lalu, apa sebenarnya arti tunarungu? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Pengertian Tunarungu
Secara bahasa, istilah tunarungu berasal dari dua kata, yaitu tuna yang berarti kurang, dan rungu yang berarti pendengaran. Jadi, tunarungu secara harfiah berarti seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tunarungu adalah kondisi tidak dapat mendengar. Dalam dunia medis, tunarungu dikenal juga dengan istilah ketunarunguan, yaitu gangguan pendengaran akibat kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran.
Selain itu, secara pedagogis, tunarungu adalah kondisi yang menyebabkan hambatan dalam perkembangan komunikasi, bicara, dan bahasa. Hal ini mengakibatkan penyandang tunarungu membutuhkan pendidikan dan bimbingan khusus agar dapat mengembangkan potensi diri secara maksimal.
Tunarungu vs. Tuli: Apa Bedanya?
Di masyarakat umum, istilah tunarungu sering dianggap lebih sopan dan halus dibandingkan kata tuli. Namun, ternyata komunitas Tuli lebih memilih untuk disebut Tuli (dengan huruf kapital T) sebagai identitas budaya mereka.
Perbedaan mendasarnya terletak pada sudut pandang:
-
Tunarungu: Istilah medis untuk menyebut kondisi kehilangan pendengaran.
-
Tuli (dengan T kapital): Istilah budaya yang merujuk pada kelompok masyarakat yang memiliki identitas sosial, menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa ibu, serta memiliki sistem nilai, sejarah, dan tradisi sendiri.
Komunitas Tuli tidak melihat kondisi mereka sebagai kekurangan yang harus “disembuhkan”. Mereka bangga dengan identitas dan cara berkomunikasi mereka yang unik.
Jenis-Jenis Tunarungu
Dalam dunia medis, tunarungu diklasifikasikan menjadi tiga jenis berdasarkan penyebabnya:
-
Gangguan Pendengaran Konduktif
Disebabkan oleh masalah pada telinga luar atau tengah, seperti infeksi. Saraf pendengaran masih berfungsi dengan baik.
-
Gangguan Pendengaran Sensorineural
Terjadi akibat kerusakan pada saraf pendengaran atau telinga bagian dalam. Biasanya bersifat permanen.
-
Gangguan Pendengaran Campuran
Merupakan gabungan dari gangguan konduktif dan sensorineural.
Selain itu, tunarungu juga bisa diklasifikasikan berdasarkan waktu terjadinya dan tingkat keparahan:
Berdasarkan waktu terjadinya:
-
Tunarungu bawaan: sejak lahir
-
Tunarungu setelah lahir: akibat penyakit atau kecelakaan
Berdasarkan tingkat kemampuan mendengar:
-
Kurang dengar: masih dapat menangkap suara dan belajar bicara
-
Tuli: tidak dapat menggunakan pendengaran sebagai alat komunikasi utama
-
Tuli total: tidak memiliki pendengaran sama sekali
Penyebab Tunarungu
Tunarungu dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik sebelum, saat, maupun setelah kelahiran. Penyebabnya terbagi menjadi dua kategori:
-
Faktor Internal
- Keturunan
- Ibu hamil terinfeksi Rubella
- Keracunan darah saat kehamilan (toksoplasma)
-
Faktor Eksternal
- Infeksi saat lahir
- Radang selaput otak (meningitis)
- Radang telinga tengah (otitis media)
- Cedera kepala atau trauma
- Paparan suara keras dalam jangka waktu lama
Cara Berkomunikasi dengan Penyandang Tunarungu
Berkomunikasi dengan penyandang tunarungu memerlukan pemahaman dan pendekatan khusus. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:
-
Dapatkan perhatian mereka terlebih dahulu, misalnya dengan menepuk bahu.
-
Bicara di tempat yang tenang dan cukup terang.
-
Sejajarkan posisi wajah untuk memudahkan membaca gerak bibir.
-
Gunakan ekspresi wajah dan bahasa tubuh.
-
Bicaralah dengan jelas, tidak terburu-buru, dan tidak menutupi mulut.
-
Gunakan bahasa isyarat jika memungkinkan.
-
Konfirmasi apakah pesan telah dipahami.
Dengan pendekatan yang tepat, komunikasi bisa berjalan lancar dan efektif.
Alat Bantu untuk Tunarungu
Untuk membantu penyandang tunarungu, tersedia beberapa alat bantu, seperti:
-
Alat bantu dengar
-
Implan koklea
-
Pengeras suara untuk perangkat elektronik
Alat-alat tersebut membantu penyandang tunarungu dalam menerima suara dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Kesimpulan
Tunarungu adalah kondisi medis di mana seseorang kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan mendengarnya. Meski sering disamakan dengan tuli, keduanya memiliki makna berbeda, terutama dalam konteks budaya. Tunarungu memerlukan perhatian khusus dalam hal pendidikan, komunikasi, dan interaksi sosial. Dengan pemahaman dan dukungan yang tepat, penyandang tunarungu dapat hidup mandiri dan aktif dalam masyarakat.

