Daftar Perusahaan Danantara Indonesia
Sejak diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara menjadi perhatian publik karena memiliki peran besar dalam pengelolaan aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia.
Danantara dibentuk untuk mengonsolidasikan pengelolaan BUMN agar lebih efisien, terukur, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui strategi investasi. Seiring perkembangan lembaga tersebut, semakin banyak perusahaan pelat merah yang masuk ke dalam ekosistem Danantara.
Berikut daftar perusahaan yang tergabung dalam Danantara Indonesia.
Tujuh BUMN Awal yang Bergabung
Pada tahap awal pembentukannya, terdapat tujuh BUMN besar yang masuk dalam pengelolaan Danantara, yaitu:
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
- PT PLN (Persero)
- PT Pertamina (Persero)
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk
- Holding BUMN pertambangan MIND ID, yang menaungi perusahaan tambang besar seperti PT Freeport Indonesia dan PT Vale Indonesia
Selain tujuh BUMN tersebut, Danantara juga mengonsolidasikan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) ke dalam ekosistemnya.
Perluasan Melalui Inbreng Saham ke BKI
Penggabungan BUMN ke dalam ekosistem Danantara berlanjut melalui skema pengalihan atau inbreng saham kepada PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI. Perusahaan tersebut berperan sebagai holding operasional Danantara.
Hingga akhir Maret 2025, sebanyak 14 emiten BUMN tercatat telah mengalihkan saham seri B dan seri C kepada BKI. Beberapa perusahaan tersebut antara lain:
- PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)
- PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP)
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)
- PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR)
- PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR)
Pada Maret 2025, pemerintah Indonesia juga menyerahkan mayoritas saham dari total 49 BUMN kepada BKI. Langkah tersebut menjadi bagian dari pembentukan holding operasional di dalam struktur Danantara.
Simplifikasi Struktur Melalui Skema Holding
Danantara juga mendorong transformasi BUMN melalui penyederhanaan struktur perusahaan dengan mekanisme merger dan pembentukan holding. Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi rantai birokrasi sekaligus memperkuat koordinasi bisnis agar lebih terpusat.
Salah satu contohnya terdapat pada sektor konstruksi. Dari sembilan BUMN konstruksi, terdapat rencana untuk merampingkan struktur menjadi empat entitas. Rencana tersebut antara lain mencakup penggabungan PT Hutama Karya dengan PT Waskita Karya serta PT Pembangunan Perumahan dengan PT Wijaya Karya.
Kinerja BUMN di Bawah Danantara
Sejumlah BUMN dalam ekosistem Danantara mencatatkan perbaikan kinerja keuangan. Berdasarkan data hingga April 2026, beberapa perusahaan yang sebelumnya mengalami kerugian berhasil kembali mencatatkan keuntungan setelah menjalani proses restrukturisasi.
- Krakatau Steel: berbalik mencatat laba Rp635 miliar dari sebelumnya mengalami kerugian Rp981 miliar.
- Kimia Farma: membukukan laba Rp108 miliar setelah sebelumnya mengalami kerugian Rp160 miliar.
- Semen Indonesia: mencatat laba Rp106 miliar dari sebelumnya rugi Rp66 miliar.
Selain perusahaan tersebut, BUMN besar seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Pertamina juga mencatat pertumbuhan laba dua digit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung oleh strategi efisiensi biaya serta pengembangan bisnis yang lebih optimal.
Kesimpulan
Danantara Indonesia terus memperluas cakupan pengelolaan investasi BUMN, mulai dari tujuh perusahaan besar pada tahap awal hingga puluhan perusahaan pelat merah yang masuk melalui skema inbreng saham dan pembentukan holding.
Transformasi tersebut juga diikuti perbaikan kinerja keuangan sejumlah BUMN. Pengelolaan yang lebih terintegrasi menjadi salah satu langkah pemerintah untuk mengoptimalkan aset negara sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.



