Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan aktivitas kegempaan yang tinggi karena berada di jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Namun, tidak semua gempa bumi memiliki penyebab yang sama.
Secara umum, gempa bumi dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan penyebabnya, yaitu gempa tektonik dan gempa vulkanik. Keduanya sama-sama menimbulkan getaran pada permukaan bumi, tetapi memiliki perbedaan dari sisi penyebab, kekuatan, jangkauan, frekuensi, hingga potensi bahayanya.
Apa Itu Gempa Tektonik?
Gempa tektonik merupakan gempa bumi yang terjadi akibat pergerakan atau pergeseran lempeng tektonik di kerak bumi. Berdasarkan teori tektonik lempeng, permukaan bumi tersusun atas sejumlah lapisan batuan besar yang terus bergerak secara perlahan.
Pergerakan tersebut dapat menyebabkan lempeng saling bertabrakan, bergesekan, atau bertumbukan. Ketika energi yang terkumpul akibat pergerakan tersebut mencapai batas elastisitas kerak bumi, energi akan dilepaskan secara tiba-tiba dalam bentuk getaran yang kemudian dirasakan sebagai gempa bumi.
Gempa tektonik merupakan jenis gempa yang paling umum terjadi di dunia. Diperkirakan sekitar 90 persen dari seluruh kejadian gempa bumi merupakan gempa tektonik.
Gempa jenis ini juga dapat memicu bencana lain, termasuk tsunami apabila pusat gempa berada di dasar laut dan memiliki kekuatan yang cukup besar.
Apa Itu Gempa Vulkanik?
Gempa vulkanik adalah gempa bumi yang berkaitan dengan aktivitas gunung berapi, terutama pergerakan magma dan gas di dalam tubuh gunung.
Pergerakan magma yang berlangsung sebelum maupun sesudah letusan dapat menyebabkan retakan pada batuan di sekitar gunung. Retakan tersebut kemudian menghasilkan getaran yang dikenal sebagai gempa vulkanik.
Gempa vulkanik menjadi salah satu indikator yang digunakan para ahli vulkanologi untuk memantau aktivitas gunung berapi. Peningkatan aktivitas kegempaan di sekitar gunung dapat menjadi bagian dari informasi yang digunakan untuk melihat perubahan aktivitas vulkanik dan mendukung sistem peringatan dini sebelum erupsi.
Perbedaan Gempa Tektonik dan Vulkanik
1. Penyebab
Perbedaan paling mendasar terletak pada penyebabnya. Gempa tektonik terjadi akibat pergerakan atau pergeseran lempeng bumi, sedangkan gempa vulkanik berkaitan dengan pergerakan magma dan gas di dalam gunung berapi.
2. Kekuatan
Gempa tektonik pada umumnya dapat memiliki kekuatan getaran yang jauh lebih besar karena energi yang dilepaskan berasal dari pergeseran lempeng bumi dalam skala besar.
Sementara itu, kekuatan gempa vulkanik dipengaruhi oleh aktivitas magma dan proses erupsi gunung berapi. Karena itu, gempa vulkanik umumnya memiliki kekuatan lebih kecil dibandingkan gempa tektonik.
3. Jangkauan Wilayah
Gempa tektonik dapat memiliki dampak yang sangat luas dan getarannya bisa dirasakan hingga puluhan atau bahkan ratusan kilometer dari pusat gempa.
Gempa vulkanik umumnya lebih terbatas dan banyak dirasakan di kawasan sekitar gunung berapi yang sedang mengalami aktivitas.
4. Frekuensi Kejadian
Gempa tektonik lebih sering terjadi karena pergerakan lempeng bumi berlangsung terus-menerus di berbagai wilayah dunia.
Sementara itu, gempa vulkanik hanya berkaitan dengan aktivitas gunung berapi, sehingga kejadian tersebut lebih terbatas pada wilayah yang memiliki gunung berapi aktif.
5. Prediktabilitas
Gempa vulkanik cenderung lebih dapat dipantau karena aktivitasnya sering berkaitan dengan perubahan kondisi gunung berapi. Peningkatan kegempaan menjadi salah satu parameter yang dapat diamati menggunakan peralatan pemantauan seperti seismograf.
Sebaliknya, waktu dan lokasi terjadinya gempa tektonik jauh lebih sulit diprediksi secara tepat. Pergerakan lempeng terjadi di bawah permukaan bumi dan tidak dapat diamati secara langsung untuk menentukan kapan gempa akan terjadi.
6. Potensi Bahaya
Gempa tektonik umumnya memiliki potensi menimbulkan kerusakan dan korban jiwa dalam skala besar karena dapat mencapai kekuatan tinggi serta memiliki jangkauan dampak yang luas.
Selain kerusakan akibat guncangan, gempa tektonik juga dapat memicu bencana ikutan seperti tsunami apabila terjadi di dasar laut. Di wilayah tertentu, gempa kuat juga dapat meningkatkan risiko tanah longsor.
Contoh Kejadian di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang berada di jalur Cincin Api Pasifik sehingga mengalami berbagai aktivitas kegempaan dan vulkanik.
Salah satu contoh gempa tektonik besar di Indonesia adalah gempa dan tsunami Aceh pada 2004. Peristiwa tersebut terjadi akibat gempa besar di wilayah lepas pantai Sumatra dan kemudian memicu tsunami yang berdampak luas.
Sementara itu, contoh aktivitas gempa vulkanik dapat ditemukan pada rangkaian kegempaan yang menyertai aktivitas gunung berapi, termasuk ketika terjadi erupsi Anak Krakatau.
Kesimpulan
Gempa tektonik dan gempa vulkanik sama-sama menghasilkan getaran di permukaan bumi, tetapi keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Gempa tektonik berkaitan dengan pergerakan lempeng bumi, sedangkan gempa vulkanik berhubungan dengan aktivitas magma dan gas di dalam gunung berapi.
Perbedaan tersebut juga terlihat pada kekuatan, jangkauan wilayah, frekuensi kejadian, kemampuan pemantauan, dan potensi bahayanya. Gempa tektonik dapat berdampak sangat luas dan berpotensi memicu tsunami, sedangkan gempa vulkanik lebih berkaitan dengan aktivitas gunung berapi dan wilayah di sekitarnya.
Memahami perbedaan kedua jenis gempa tersebut penting bagi masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah rawan gempa atau berada di sekitar gunung berapi. Pengetahuan mengenai karakteristik gempa dapat membantu masyarakat memahami risiko dan meningkatkan kewaspadaan sesuai kondisi wilayah masing-masing.



