Setiap kali kita menabung, mentransfer uang, atau mengajukan pinjaman di bank, jarang sekali kita membayangkan bahwa sistem perbankan yang kita nikmati hari ini telah melalui perjalanan panjang selama hampir tiga abad. Dari bank pertama yang gagal beroperasi pada masa VOC hingga sistem perbankan modern yang kini menopang perekonomian nasional, sejarah perbankan Indonesia sarat dengan dinamika politik dan perjuangan kedaulatan ekonomi. Yuk, telusuri lebih dalam bagaimana perbankan di Indonesia berkembang dari masa ke masa.
Bank Pertama di Indonesia
Bank pertama yang hadir di Indonesia adalah De Bank van Leening, yang didirikan pada 1746 oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) untuk memfasilitasi aktivitas perdagangan mereka di Hindia Belanda. Sayangnya, bank ini menghadapi berbagai kesulitan operasional dan akhirnya gagal mencapai tujuannya. Bank penerusnya, De Bank Courant en Bank van Leening, juga mengalami nasib serupa dan berakhir dengan kebangkrutan.
Lahirnya De Javasche Bank
Setelah VOC bangkrut dan diambil alih oleh pemerintah Kerajaan Belanda, lembaga perbankan baru bernama De Javasche Bank (DJB) resmi didirikan pada 24 Januari 1828 atas perintah Raja Willem I, dengan modal awal senilai 1.009.500 gulden. DJB diberikan octrooi atau hak istimewa untuk menjadi bank sirkulasi, yaitu bank yang berwenang mencetak dan mengedarkan uang gulden di seluruh wilayah Hindia Belanda. Selain itu, DJB juga menjalankan berbagai fungsi penting lain, seperti mendiskonto wesel dan surat utang jangka pendek, menjadi kasir pemerintah kolonial, menyimpan dana devisa, serta menjadi pusat kliring.
Dalam perkembangannya, DJB terus memperluas jaringan operasinya, dengan membuka 15 kantor cabang di berbagai kota strategis di Hindia Belanda sepanjang periode 1870 hingga 1942, mulai dari Yogyakarta, Medan, Bandung, Palembang, hingga Manado. Meski demikian, perlu dicatat bahwa kebijakan moneter pada masa ini sepenuhnya diarahkan untuk kepentingan ekonomi kolonial, termasuk mendukung Sistem Tanam Paksa (cultuurstelsel), bukan untuk kesejahteraan masyarakat pribumi.
Masa Pendudukan Jepang
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, De Javasche Bank dilikuidasi oleh pemerintah militer Jepang. Fungsi DJB sebagai bank sirkulasi kemudian digantikan oleh Nanpo Kaihatsu Ginko (NKG), bank yang dibentuk khusus untuk mendukung kepentingan ekonomi Jepang selama masa pendudukan.
Perbankan Pasca Kemerdekaan
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945, keberadaan De Javasche Bank menjadi isu penting dalam perjuangan kedaulatan ekonomi bangsa. Pada 30 Oktober 1946, pemerintah Indonesia menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai simbol kedaulatan moneter negara yang baru merdeka. Namun, situasi menjadi rumit karena Belanda melalui NICA tetap mengoperasikan De Javasche Bank, sehingga terjadi dualisme bank sirkulasi di Indonesia yang memicu “perang mata uang”, dengan uang DJB dikenal sebagai “uang merah” dan ORI sebagai “uang putih”.
Nasionalisasi dan Lahirnya Bank Indonesia
Pemerintah Indonesia menyadari bahwa kemerdekaan politik harus diikuti dengan kendali penuh atas kebijakan moneter nasional. Melalui proses nasionalisasi yang panjang, De Javasche Bank akhirnya resmi dinasionalisasi pada 1951. Puncaknya, pada 1 Juli 1953, pemerintah Indonesia resmi mendirikan Bank Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1953, menandai lahirnya bank sentral nasional yang sepenuhnya berada di tangan bangsa Indonesia sendiri, sekaligus mengakhiri era dominasi kolonial dalam sistem perbankan nasional.
Perkembangan Perbankan di Era Modern
Sejak resmi berdiri sebagai bank sentral, Bank Indonesia terus menjalankan perannya dalam menjaga stabilitas rupiah dan sistem keuangan nasional. Seiring berjalannya waktu, sektor perbankan Indonesia juga berkembang pesat dengan hadirnya berbagai bank milik pemerintah maupun swasta, mulai dari bank umum, bank pembangunan daerah, hingga bank syariah. Regulasi perbankan pun terus disempurnakan untuk menjaga kepercayaan masyarakat, termasuk lewat pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang kini berperan mengawasi industri jasa keuangan secara lebih terintegrasi.
Penutup
Perjalanan panjang sejarah perbankan di Indonesia, dari kegagalan De Bank van Leening pada masa VOC hingga berdirinya Bank Indonesia sebagai bank sentral yang berdaulat, mencerminkan bagaimana bangsa ini berjuang keras untuk mengambil alih kendali atas sistem keuangannya sendiri. Memahami sejarah ini membantu kita lebih menghargai betapa pentingnya kedaulatan ekonomi bagi sebuah bangsa, sekaligus menyadari bahwa sistem perbankan yang kita nikmati hari ini adalah hasil perjuangan panjang generasi sebelumnya.



