Gejala Difteri Mirip Radang Tenggorokan? Ini Bedanya dan Cara Mengatasinya!
Pernahkah kamu mengalami sakit tenggorokan yang terasa nyeri dan sulit menelan? Sekilas, keluhan ini tampak seperti radang tenggorokan biasa, tetapi bisa jadi tanda dari gejala difteri. Banyak orang belum menyadari bahwa gejala difteri memang sering menyerupai infeksi tenggorokan ringan. Namun, penyakit ini jauh lebih berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali gejala difteri, memahami perbedaannya dengan radang tenggorokan, serta mengetahui langkah pencegahannya.
Apa Itu Difteri?
Difteri adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini menghasilkan racun (toksin) yang bisa menyerang tenggorokan, hidung, dan saluran pernapasan bagian atas.
Racun tersebut dapat menyebar ke organ lain seperti jantung dan sistem saraf, sehingga membuat gejala difteri semakin berbahaya.
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), kasus difteri masih ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Cara Mengatasi dan Mencegah Difteri
Mengatasi gejala difteri tidak bisa dilakukan dengan obat rumahan. Penyakit ini membutuhkan penanganan medis dengan antitoksin difteri dan antibiotik sesuai anjuran dokter. Namun, ada beberapa langkah pencegahan yang bisa kamu lakukan agar tidak tertular, antara lain:
-
Lengkapi Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus)
Imunisasi DPT diberikan sejak bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan. Booster perlu dilakukan di usia 18 bulan, lalu saat anak duduk di kelas 1, 2, dan 5 SD.
Dengan imunisasi lengkap, risiko gejala difteri akan jauh menurun. -
Hindari Kontak Langsung dengan Penderita Difteri
Difteri mudah menular lewat percikan air liur. Oleh karena itu, gunakan masker dan jaga jarak jika berada di lingkungan yang terdeteksi kasus difteri.
-
Jaga Kebersihan Diri dan Lingkungan
Biasakan mencuci tangan sebelum makan dan setelah bepergian. Selain itu, hindari berbagi alat makan dengan orang lain untuk mencegah penyebaran gejala difteri.
-
Segera Periksa ke Dokter Jika Tenggorokan Terasa Aneh
Jika kamu merasakan tenggorokan seperti tertutup selaput abu atau terasa sesak, jangan menunda pemeriksaan.
Deteksi dini membantu mencegah gejala difteri berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Perbedaan Gejala Difteri dan Radang Tenggorokan
Banyak orang salah mengenali gejala difteri sebagai radang tenggorokan biasa. Padahal, ada beberapa tanda khas yang bisa menjadi pembeda.
Berikut penjelasannya:
-
Penyebab
Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae, sedangkan radang tenggorokan biasa umumnya disebabkan oleh virus atau bakteri ringan seperti Streptococcus.
-
Lapisan Tenggorokan
Pada difteri, muncul lapisan abu keabu-abuan tebal di tenggorokan. Sementara itu, pada radang tenggorokan hanya tampak kemerahan tanpa lapisan.
-
Demam
Difteri biasanya menimbulkan demam ringan hingga sedang. Sedangkan radang tenggorokan menyebabkan demam sedang tanpa gejala berlebihan.
-
Bau Mulut
Penderita difteri sering mengalami bau mulut khas yang menyengat karena racun bakteri. Pada radang tenggorokan, bau mulut tidak terlalu kuat.
-
Pembengkakan Leher
Leher penderita difteri bisa tampak membengkak atau disebut “bull neck”. Sementara pada radang tenggorokan, pembengkakan ekstrem jarang terjadi.
Peran Imunisasi dalam Mencegah Gejala Difteri
Imunisasi menjadi benteng utama untuk melawan gejala difteri. Kemenkes menegaskan bahwa vaksin DPT mampu memberikan perlindungan jangka panjang terhadap difteri. Selain itu, imunisasi juga membantu menekan penyebaran penyakit di masyarakat. Oleh karena itu, orang tua perlu memastikan jadwal imunisasi anak tidak terlewat.

