Gorengan menjadi salah satu menu favorit masyarakat Indonesia saat berbuka puasa. Mulai dari bakwan, tahu isi, tempe goreng hingga pisang goreng, jajanan ini hampir selalu tersedia di pasar takjil selama Ramadan. Rasanya yang gurih dan renyah membuat banyak orang memilih makan gorengan saat buka puasa sebagai menu pertama setelah seharian menahan lapar dan haus.
Namun, kebiasaan makan gorengan saat buka puasa ternyata tidak selalu baik bagi kesehatan. Setelah berpuasa sekitar 12–14 jam, kondisi lambung cenderung sensitif sehingga makanan tinggi lemak bisa memicu gangguan pencernaan. Selain itu, gorengan mengandung lemak jenuh dan lemak trans yang dapat berdampak buruk bagi tubuh jika dikonsumsi terlalu sering.
Kenapa Gorengan Jadi Menu Favorit Buka Puasa?
Banyak orang memilih makan gorengan saat buka puasa karena makanan ini mudah ditemukan dan harganya relatif murah. Selain itu, gorengan juga memberikan rasa kenyang lebih cepat karena kandungan kalorinya cukup tinggi.
Namun, ahli gizi tidak menyarankan menjadikan gorengan sebagai makanan pertama saat berbuka. Tubuh yang baru menerima asupan setelah berpuasa membutuhkan cairan dan makanan ringan yang mudah dicerna terlebih dahulu.
Selain itu, gorengan biasanya dimasak dengan minyak yang digunakan berulang kali. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kandungan lemak tidak sehat di dalam makanan.
Risiko Sering Makan Gorengan Saat Buka Puasa
1. Mengganggu Sistem Pencernaan
Salah satu dampak dari makan gorengan saat buka puasa adalah gangguan pada sistem pencernaan. Makanan berminyak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna oleh tubuh.
Akibatnya, makanan bisa tertahan lebih lama di lambung sehingga memicu keluhan seperti:
- perut kembung
- mual
- nyeri lambung
Selain itu, kondisi ini dapat membuat tubuh terasa tidak nyaman saat menjalankan ibadah di malam hari.
2. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung
Kebiasaan makan gorengan saat buka puasa secara berlebihan juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Gorengan mengandung lemak jenuh dan lemak trans yang dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa konsumsi lemak trans berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner secara signifikan. Selain itu, makanan yang digoreng juga memiliki kalori tinggi yang dapat memperburuk kondisi kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus.
3. Menyebabkan Berat Badan Naik
Risiko lain dari makan gorengan saat buka puasa adalah peningkatan berat badan. Proses penggorengan membuat makanan menyerap banyak minyak sehingga kandungan kalorinya meningkat.
Sebagai contoh, makanan yang digoreng dapat memiliki kalori jauh lebih tinggi dibandingkan makanan yang dipanggang atau direbus. Selain itu, konsumsi gorengan yang berlebihan juga dapat meningkatkan risiko obesitas dalam jangka panjang.
4. Menyebabkan Radang Tenggorokan
Menurut pakar kesehatan, konsumsi gorengan secara berlebihan saat berbuka juga dapat meningkatkan risiko radang tenggorokan dan batuk.
Hal ini terjadi karena minyak dan tepung pada gorengan dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan. Selain itu, kombinasi gorengan dengan minuman dingin juga dapat memperburuk kondisi tenggorokan.
Tips Aman Makan Gorengan Saat Buka Puasa
Walaupun memiliki risiko kesehatan, bukan berarti gorengan harus dihindari sepenuhnya. Namun, ada beberapa tips yang dapat dilakukan supaya kebiasaan makan gorengan saat buka puasa tetap lebih aman.
Beberapa tips yang bisa diterapkan antara lain:
- Awali berbuka dengan air putih atau kurma
- Batasi konsumsi gorengan maksimal satu hingga dua potong
- Hindari gorengan yang digoreng dengan minyak berulang
- Konsumsi sayur dan buah setelah berbuka
- Pilih makanan bergizi seimbang saat makan malam
Selain itu, pola makan yang seimbang selama Ramadan juga penting untuk menjaga kesehatan tubuh.

