Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menjadi tuan rumah dalam kegiatan “Lokakarya Integrasi Rencana Aksi Kolaboratif Majelis Lembaga Ortom Program Rehabilitasi & Rekonstruksi Pasca Tanggap Darurat Bansor Sumatera (Aceh, Sumut, Sumbar) POSKORNAS PP Muhammadiyah” di Ruang Rapat VIP Jalan Muchtar Basri No.3 Medan, Selasa (10/2).

“Kami menghaturkan terima kasih atas kiprah yang luar biasa dalam proses tanggap bencana ini. Kalau melihat apa yang dilakukan persyarikatan di tiga provinsi saat bencana kemarin, didukung kampus dan seluruh struktur yang dimiliki, itu menjadi teladan bagi komponen lain,” katanya.
Ketua PP Muhammadiyah itu mengatakan bahwa gerakan kemanusiaan Muhammadiyah harus dilandasi niat yang tulus. “Yang kita lakukan bukan untuk pencitraan, tapi untuk akuntabilitas kepada publik bahwa dana yang dikumpulkan benar-benar disalurkan.”

Merespons kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) melalui program tanggap darurat bencana menurunkan ratusan relawan untuk membantu pemulihan.
“Pertama kali datang ke lokasi banjir, banyak keadaan yang menyayatkan hati. Kondisinya sangat kacau. Banyak rumah yang rata oleh tanah, sebagian terbawa oleh banjir, perabotan rumah berserakan, kendaraan ditelantarkan, sebagian rumah tertutupi oleh lumpur,” ungkapnya.
Selain kerusakan fisik, risiko penyakit pascabanjir juga meningkat. “Pasien sering datang dengan keluhan demam, batuk, sesak akibat lumpur yang kering dan ventilasi pengungsian yang buruk. Kemudian diare akibat sumber air yang tercemar, bahkan berisiko dehidrasi berat. Tak lupa juga leptospirosis, infeksi akibat kuman yang dikeluarkan oleh tikus yang bisa menyebabkan kerusakan organ vital,” jelasnya.

“Tim UMSU sudah memberikan logistik bantuan kepada masyarakat terdampak, kemudian juga ada pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang mengalami dampak dari bencana ini,” ujarnya.
Selama sebulan menjalankan program kampus berdampak, UMSU menurunkan sekitar 300 personel yang tersebar di Tapanuli Selatan, Sibolga, Tapanuli Tengah, Langkat, dan Aceh Tamiang. Selain itu, sekitar 70 dokter disiagakan untuk membantu layanan medis di wilayah terdampak.
UMSU juga menerima dukungan pendanaan sebesar Rp1,6 miliar dari Kementerian Dikti Saintek yang digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan tanggap darurat, termasuk pembelian tong air, penggalian sumur, pengadaan genset, serta instalasi fasilitas pendukung lainnya.
Sementara itu, Ketua PWM Sumut Prof. Dr. H. Hasyimsyah Nasution, M.A, mengingatkan pentingnya manajemen dan koordinasi dalam penanganan bencana. “Sesuatu yang benar kalau tidak di-manage dengan baik bisa dikalahkan oleh yang batil. Karena itu perlu koordinasi dan pendataan yang baik agar bantuan tepat sasaran,” ujarnya.
Kegiatan ini dilanjutkan dengan sesi panel laporan Respon Bencana Banjir & Longsor Sumatera (Aceh, Sumbar, Sumut), program yang sedang dan akan berjalan oleh MDMC, presentasi hasil Jitupasna serta mekanisme Keuangan Dukungan Program Pasca Bencana.




