Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menggelar kuliah umum dengan tajuk Expert Talk “Prospek Ekonomi 2026 Indonesia: Strategi Pertumbuhan Ekonomi dalam Ketidakpastian Global” di Auditorium Kampus Jalan Muchtar Basri No.3 Medan, Selasa (8/12).
Acara dibuka langsung oleh Rektor UMSU Prof. Agussani, MAP diwakili Wakil Rektor 1 Prof. Dr. Muhammad Arifin, M.Hum. Hadir selaku narasumber Rektor Perbanas Institute dan Guru Besar sekaligus tim pakar ekonomi Presiden SBY, Dr. Hermanto Siregar, Ph.D.

“Kalau Indonesia ingin perkembangan ekonominya benar-benar dahsyat, perlu ada sumber-sumber pertumbuhan yang lain.”
Dia juga menyoroti pentingnya hilirisasi, tetapi diimbangi kelestarian lingkungan. “Hilirisasi tambang memberikan kontribusi untuk ekonomi, tapi alam bisa rusak. Jadi walaupun sumber pertumbuhannya luar biasa, tidak boleh sembarangan merusak lingkungan,” tegasnya.

Sebelumnya, Wakil Rektor 1 Prof. Arifin dalam sambutannya berharap kegiatan ini terus berlanjut dan kehadiran pemateri bukan sekali saja. Dia juga menyoroti isu ekonomi di Indonesia.
“Para ahli pertumbuhan ekonomi mengatakan, perekonomian kita hanya bisa mencapai 5-5,2% saja di pertengah persaingam global ini. Karenna yang mendukung ekonomi negara kita hanya beberapa sektor saja terlebih di tengah bencana ini,” ujarnya.
Prof. Arifin mengatakan hal ini dapat menjadi masalah, sehingga isu inilah yang akan disampaikan pemateri untuk menambah khasanah pengetahuan mahasiswa.
“Mari kita ikuti pembicaraan dan informasi ini dengan bijak. Kita perlu turut memperhatikan pertubmmbuhan ekonomi di Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Dekan FEB, Dr. Radiman, M.Si menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi periode penuh dinamika bagi perekonomian nasional karena berbagai perubahan dan kejadian penting.
“Ada beberapa peristiwa penting di bidang ekonomi pada tahun 2025, yaitu MBG, efisiensi anggaran, program Danatara, Koperasi Merah Putih, perubahan Menteri Keuangan, serta bencana alam yang pasti mengganggu ekonomi Indonesia,” ujar Radiman.
Dia menambahkan, “Kami ingin mendengar bagaimana program Asa Cita berjalan di tengah berbagai kejadian yang terjadi di Indonesia.”
Acara ini diharapkan dapat memberikan wawasan strategis bagi sivitas akademika dan pemangku kepentingan ekonomi untuk menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.


