Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FEB UMSU) menjadi ruang lahirnya gagasan strategis baru mengenai masa depan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan. Pada Kamis, 13 November 2025, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan pemaparan teknis dan diskusi kebijakan yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan sektor perikanan untuk membahas transformasi Eco Fishing Port, sebuah model pelabuhan modern yang menekankan efisiensi, keberlanjutan, dan penguatan ekosistem maritim nasional.

Ia lebih lanjut menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus mampu menjadi jembatan antara riset akademik, penguatan kebijakan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Dari pihak universitas, Wakil Rektor I, Prof. Dr. Muhammad Arifin, S.H., M.Hum, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia menyebut perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat dalam praktik pembangunan berkelanjutan, khususnya di sektor kelautan dan lingkungan yang menjadi isu strategis di Sumatera Utara.

“Transformasi Eco Fishing Port itu keharusan. Kita ingin pelabuhan yang produktif, modern, tetapi tetap menjaga laut. Karena itu KKP menggandeng UMSU sebagai mitra akademik yang kredibel dan berpengalaman di bidang kajian pembangunan,” kata Dedy.
Dalam kesempatan yang sama, ia menguraikan lima pilar kebijakan utama KKP, mulai dari perlindungan kawasan laut dan sumber daya ikan, penangkapan ikan terukur berbasis kuota, pengembangan perikanan budidaya berkelanjutan, pengawasan pesisir dan pulau kecil, hingga gerakan pembersihan sampah plastik melalui partisipasi nelayan. Kelima pilar tersebut menjadi fondasi transformasi PPS Belawan menuju pelabuhan yang ramah lingkungan dan efisien.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah lembaga strategis yang memiliki peran langsung dalam pengelolaan wilayah pesisir dan aktivitas kepelabuhanan.

Diskusi yang berlangsung di FEB UMSU berjalan dinamis dan kritis. Para peserta dari unsur akademisi, praktisi perikanan, serta mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan dan menawarkan pandangan berbasis pengalaman lapangan. Tema utama yang mengemuka adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara produktivitas ekonomi pelabuhan dengan kelestarian ekologi laut—dua aspek yang selama ini kerap dianggap bertentangan.
Melalui kemitraan strategis ini, KKP berharap PPS Belawan dapat tumbuh menjadi salah satu model Eco Fishing Port terbaik di Indonesia: pelabuhan yang modern, efisien, dan sekaligus menjadi pusat praktik pengelolaan perikanan yang ramah lingkungan. Bagi UMSU, keterlibatan dalam program ini membuka ruang kontribusi akademik yang lebih luas melalui penelitian, pengabdian masyarakat, serta penguatan kebijakan publik.


