Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) jurusan Kesejahteraan Sosial, Dicky Renaldi berbagi kisahnya menjadi salah satu mahasiswa yang mengikuti program MBKM MSIB Studi Independen Bersertifikat.
Dicky, bergabung menjadi tim AMATI Indonesia yakni suatu wadah berkumpulnya para mahasiswa dari berbagai latar belakang ilmu yang akan melaksanakan dan mewujudkan Tri Dharma Perguruan tinggi. Mulai dari pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengabdian kepada masyarakat. Melalui program Studi Independen Bersertifikat Kampus Merdeka dari Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Dicky dapat menikmati fasilitas ekowisata berbasis desain thinking yang difasilitasi AMATI Indonesia.
Tidak hanya pembelajaran secara online saja, namun Dicky beserta mahasiswa lainnya dituntut bisa mengimplementasikan ilmu secara langsung turun ke lapangan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Terletak di ujung timur Gorontalo, tidak hanya memiliki potensi di berbagai sektor, keindahan alam yang eksotis dan dikelilingi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone menjadikan Pinogu sebagai surganya timur Gorontalo.
Terdapat diua tim yang ditempatkan di Pinogu, setiap timnya beranggotakan 5 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan linier ilmu berbeda. Dicky tergabung di dalam tim Julang Sulawesi bersama Yellin Fitri Rastrania (Universitas Airlangga), Lusi Heraningtyas (Universitas Gadjah Mada), Muhammad Hidayatullah (Universitas Jember), M. Gafur Maladjai (Universitas Negeri Gorontalo), dan Dicky Renaldi (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara).
Sayangnya, ketika hari keberangkatan ke lokasi penempatan masing-masing. Dicky dinyatakan positif Covid-19. Terpaksa, ia harus menunda keberangkatannya, merelakan teman-teman se-timnya terlebih dahulu berangkat tanpa dirinya. Tidak pantang menyerah, Dicky melakukan test kembali di hari ke-21.
Dicky merasakan, ini semua cukup merepotkan, namun mau bagaimana lagi? Pandemi Covid-19 telah menghancurkan segalanya. Ia sudah tidak sabar berada Gorontalo tempat yang sering disebut “Serambi Madinah Indonesia”. Statusnya yang ‘positif’ memkasanya beristirahat dan menjalani karantina terlebih dahulu serta tetap berkordinasi dengan tim Julang Sulawesi secara daring.
Tiga minggu Dicky berjuang melawan Covid-19, penantiannya berkumpul dengan tim Julang Sulawesi akhirnya tercapai. Tepat di 6 November 2021, perjalanan dan petualangannya menuju timur Gorontalo dimulai. Membutuhkan kurang lebih 10 jam untuk menghantarkan dirinya sampai di Sulawesi, Keberangkatannya dari Bandara Kualanamu menuju bandara Jalaluddin Gorontalo tak pernah dibayangkan sebelumnya.
7 November 2021, Dicky sampainya di Gorontalo. Kedatangannya langsung disambut hangat Azwar dan Alex selaku PIC Studi Independen AMATI Indonesia di Gorontalo. Ia tidak langsung dihantarkan ke Pinogu, lokasi penempatan timnya. Untuk menikmati keindahan alama sekitar, Dicky diajak keliling terlebih dahulu menikmati indahnya Desa Botubarani, tempat ternama diving melihat Hiu Paus. Di desa ini, ia bertemu dengan Sandiaga Uno Menteri Pariwisata yang saat itu juga menikmati keindahan laut Gorontalo. Tidak sampai di situ, perjalanannya dilanjutkan ke Desa Olele dengan Kapal kecil sembari menikmati sunset di tepi pantai.
Larut menikmati keindahan, Dicky akhirnya menginap satu malam di Desa Pangi bersama tim Monyet Hitam Sulawesi. Keesokan harinya pukul 10.00 WIB, ia dihantarkan Bapak Alex menuju Pinogu dengan motor trail yang sudah dimodifikasi, untuk menunjang perjalanan dengan akses yang cukup susah melewati hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
Perjalanan menuju Pinogu ±40 Km, dan memakan waktu ±5 jam perjalanan. Setibanya di Pinogu, anggota tim Julang Sulawesi menyambut hangat si Dicky yang sebelumnya hanya bertemu virtual melalui Zoom dan Gmeet dalam melakukan pembelajaran atau pembekalan sebelum ke lokasi penempatan yakni Pinogu. Keindahan alam menjadi pembuka yang luar biasa baginya, namu pengalaman berharga lainnya ia rasakan saat menyadari ada perbedaan bahasa yang cukup membuatnya report saat ingin berbicara.
Selama beberapa bulan di Pinogu, tim Julang Sulawesi melakukan berbagai kegiatan mulai dari observasi, memakai ilmu yang sudah diberikan yakni design thinking. Observasinya bersama tim menghasilkan karya-karya apik seperti booklet (buku informasi), jalur interpretasi, galeri potensi, papan informasi, video dokumenter, video budaya, dan paket wisata “Agritourism Tiyombo Lo Lipu”.
Karya tersebut digunakan untuk menunjang para wisatawan menambah informasi ketika berkunjung di Pinogu . Semua hasil karya tersebut dipaparkan kepada Bupati Bone Bolango sebelum pulang ke daerah masing-masing pada tanggal 15 Januari 2022, sebagai bahan evaluasi pemerintah daerah terhadap objek-objek yang potensial untuk ekowisata. Serta sebagai penunjang perekonomian untuk masyarakat sekitar. Dan karya yang dibuat mendapatkan apresiasi oleh Bupati Bone Bolango.


