Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) sukses menyelenggarakan Kuliah Umum Internasional (International Public Lecture) bertajuk “Synergy for a Food-Secure Future” pada Kamis (15/5) secara hybrid berpusat di Auditorium UMSU Jalan Muchtar Basri No, 3 Medan.
Acara ini hasil kolaborasi antara UMSU, Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam, dan Iloilo State University of Fisheries Science and Technology (ISUFST) Filipina menjadi forum strategis bagi para akademisi dan mahasiswa dari tiga negara yakni Indonesia, Brunei Darussalam, dan Filipina berdiskusi mengenai isu global ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan.

Kuliah umum dimulai dari pembicara pertama, Dekan Fakultas Pertanian UNISSA Brunei Darussalam Assoc. Prof. Dr. Rose Abdullah, menyampaikan pengetahuan tentang “Agriculture in Brunei Darussalam Economy: Future Prospect”. Dia mengungkapkan bahwa sektor pertanian hanya menyumbang sekitar 1,2% terhadap PDB Brunei, dan negara tersebut masih sangat bergantung pada impor bahan pangan.
“Produksi lokal padi kami hanya mencakup 8,2% dari total konsumsi nasional. Artinya, 90% beras masih kami impor,” jelas Dr. Rose.
Dia menekankan perlunya pengembangan teknologi seperti pertanian urban (urban farming), rumah kaca, serta penggunaan varietas unggul dan pupuk organik untuk mengatasi masalah tanah masam di Brunei.
“Kami berupaya meningkatkan produktivitas padi dari 4–5 ton per hektar menjadi 10 ton per hektar dengan rekayasa tanah dan teknologi tinggi,” tambahnya.

Selanjutnya, pembicara kedua, Dekan Fakultas Pertanian UMSU, Assoc. Prof. Dr. Dafni Mawar Tarigan, S.P., M.Si memaparkan strategi pengembangan tanaman alternatif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum. Presentasi berjudul “Advancement of Wheat and Sorghum as Alternative Food Sources to Support Food Security” menyoroti pentingnya sorgum dan gandum lokal.
“Indonesia mengimpor lebih dari 12 juta ton gandum per tahun, hampir seluruhnya dari luar negeri. Ini tantangan besar bagi kedaulatan pangan kita,” ujar Dekan Faperta.
Dia menambahkan bahwa sorgum memiliki banyak keunggulan, seperti tahan iklim kering, kaya gizi, dan bisa dimanfaatkan seluruh bagiannya, baik untuk makanan manusia, pakan ternak, maupun bahan baku industri bioenergi.

“Saat ini kami fokus melakukan penelitian dan pemuliaan sorgum untuk mendapatkan varietas yang cocok dengan agroekologi Indonesia,” ungkapnya.
Terakhir, pembicara ketiga, Dr. Eluisa E. Villamor dari ISUFST Filipina, membahas Enhancing Food Security Through Post-Harvest Processing and Value Addition”. Dia menyoroti pentingnya mengurangi kehilangan hasil pertanian pascapanen dan menambahkan nilai ekonomis pada produk pertanian.
“Di negara berkembang, hingga 30–40% hasil panen hilang akibat penanganan pascapanen yang buruk. Ini ironis, mengingat kita tengah menghadapi krisis pangan global,” jelas Dr. Eluisa.
Dia memperkenalkan berbagai metode post-harvest treatment seperti penyimpanan dingin, pengemasan vakum, pelapisan lilin yang bisa dimakan (edible coating), dan pengaturan atmosfer terkendali. Selain itu, ia juga menyoroti potensi pengembangan nilai tambah melalui fortifikasi, fermentasi, dan pengolahan pangan lokal.
“Dengan menambah nilai pada produk pertanian, kita tidak hanya memperpanjang umur simpan, tapi juga membuka peluang ekspor dan peningkatan pendapatan petani,” tuturnya.
Sesi diskusi berjalan interaktif dan antusias mahasiswa lintas fakultas. Salah satunya, Wanda Ekmardana dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, menanyakan bagaimana cara menarik minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.
Menjawab pertanyaan ini, Dr. Rose dan Dr. Eluisa menekankan pentingnya pendidikan, pemberian insentif, dan penerapan teknologi pertanian modern sebagai daya tarik bagi generasi muda.
“Kunci utamanya adalah insentif, teknologi, dan pelatihan berkelanjutan. Kita harus menunjukkan bahwa bertani bisa modern dan menguntungkan,” ujar Dr. Rose.
Menutup acara, Dr. Syaiful menyampaikan harapan agar kegiatan ini menjadi awal dari kerja sama riset yang lebih luas di bidang ketahanan pangan antarnegara.
“UMSU berkomitmen menjadi kampus berdampak. Kami terus mendorong riset yang inovatif, berkelanjutan, dan bisa dihilirisasi untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.


