Pada hari pertama pelaksanaan, sebanyak 200 paket sembako disalurkan kepada warga terdampak banjir di Dusun Sidodadi, Desa Sekoci, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Sabtu, (13/12).

Penyaluran bantuan dipimpin oleh Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMSU, Assoc. Prof. Dr. Hj. Yurisna Tanjung, M.AP, bersama Ketua Tim Pergerakan Tanggap Darurat Bencana Wilayah Langkat, dr. Eka Febriyanti, M.Gizi, serta didampingi kepala dusun setempat. Selain sembako, tim juga menyalurkan toren air dan air minum bersih di sejumlah titik pemukiman warga, mengingat sumber air bersih rusak akibat terjangan banjir.

Bagi Deli (43), banjir kali ini menjadi pengalaman paling menakutkan sepanjang hidupnya. Ia mengisahkan air mulai memasuki rumah sekitar pukul 07.00 WIB. Awalnya, banjir tersebut dianggap sebagai kejadian rutin. Namun, air terus meninggi hingga mencapai dada orang dewasa.
“Kami panik. Tidak sempat menyelamatkan apa-apa. Saya hanya memikirkan bagaimana menyelamatkan keluarga,” tuturnya.

Kisah serupa dialami Rindi (20). Ia berusaha menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi, namun derasnya arus menyeret tubuhnya hingga tersangkut di sebuah pohon.
“Saat itu saya sangat takut, tapi saya percaya Allah masih menjaga saya,” ungkapnya lirih.
Wakil Dekan III FISIP UMSU, Assoc. Prof. Dr. Hj. Yurisna Tanjung, M.AP, menyampaikan bahwa kehadiran tim UMSU di Langkat bukan hanya membawa bantuan fisik, tetapi juga harapan dan empati bagi masyarakat terdampak.
“Aksi ini merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial UMSU sebagai perguruan tinggi, sekaligus implementasi nyata program Kemendiktisaintek dalam menghadirkan kampus yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, dr. Eka Febriyanti, M.Gizi menegaskan bahwa bantuan akan terus disesuaikan dengan kebutuhan lapangan, khususnya pada aspek kesehatan, air bersih, dan pemulihan kondisi warga.
Melalui kolaborasi UMSU dan Kemendiktisaintek, bantuan kemanusiaan tidak sekadar hadir sebagai respons darurat, tetapi juga sebagai penguat harapan bahwa masyarakat tidak sendiri menghadapi bencana. Di tengah banjir yang menyisakan trauma, kepedulian menjadi jembatan menuju pemulihan dan kebangkitan kembali kehidupan warga Langkat.


